MODAL RUMAH SAKIT MENGHADAPI 2022 Print
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Tuesday, 04 January 2022 08:54

MODAL RUMAH SAKIT MENGHADAPI 2022

Mengakhiri tahun 2021 kasus covid 19 sudah jauh berkurang. Jika saat tertinggi angka kasus baru per hari mencapai 50 ribu, kini rata rata sudah dibawah lima ratus. Tentu kita bersyukur atas kondisi ini, virus yang kalau dikumpulkan dari seluruh dunia dijadikan satu besarannya-ada yang menghitung- cuman seukuran satu minuman kaleng, ini sangat menyengsarakan kehidupan manusia di muka bumi. Semua sendi kehidupan kena dampaknya, orang dibatasi pergerakannya, hampir semua sektor bisnis macet bahkan sampai bangkrut. Kini, seiring dengan turunnya kasus baru, kehidupan mulai berangsur normal. Pembatasan dari pemerintah diperlonggar meskipun belum sepenuhnya kembali seperti semula. Tapi setidaknya roda ekonomi mulai menggeliat, jalan raya sudah ramai, Alhamdulillah.

Diantara yang bersyukur itu adalah rumah sakit (RS), bagaimana tidak, selama covid mengganas baik RS maupun karyawannya harus hidup susah. Kerja harus memakai alat pelindung diri (APD) yang rapat, beban kerja meningkat karena pasien melimpah ruah, saking melimpahnya sampai sampai buka tenda di depan IGD agar dapat menampung pasien yang datang. Tidak hanya tempat tidur yang kurang, barang kebutuhan lainnya menjadi langka dan melonjak harganya, obat tiba tiba menghilang, APD sulit dicari, oksigen suplainya tersendat. Belum lagi tenaga medis maupun non medis banyak yang terpapar dan harus menjalani isolasi mandiri mapupun dirawat, maka yang masih sehat harus menanggung beban kerja berlipat. Lengkap sudah penderitaan RS.  Hanya ada dua hal yang membuat rumah sakit dapat bertahan melayani pasien covid, pertama, melayani karena komitmen moril sebagai bentuk tanggungjawab sosial, dan kedua, “terpaksa” karena hanya pasien covid yang ada, sedangkan pasien lain termasuk BPJS tinggal sedikit sekali, turun banyak.

Kini seiring dengan berangsur normalnya roda kehidupan, apakah dinamika di RS juga akan normal?, pasien poliklinik kembali antri, yang rawat inap dipenuhi penyakit infeksi maupun degeneratif, tenaga medis sudah tidak memakai APD ketat lagi, pasien BPJS kembali datang ke RS. Sejak awal banyak para ahli yang berpendapat bahwa kehidupan tidak akan kembali persis seperti semula, mereka menyebutnya new normal, suatu bentuk kenormalan baru. Saya sendiri sependapat, dinamika RS tidak lagi sama dengan sebelumnya. Yang penting kita amati dan pelajari adalah perubahan seperti apa yang terjadi, dan bagaimana menghadapinya?

Satu hal yang paling banyak berubah adalah orang menjadi terbiasa menggunakan teknologi digital untuk mengatasi permasalahannya. Untuk bertemu bersama-sama kita sudah terbiasa menggunakan zoom, tidak perlu kumpul secara langsung. Saya misalnya, kalau tidak penting sekali lebih suka pakai zoom, dari pada habis waktu di jalan pergi pulang hanya untuk rapat yang berlangsung dua jam.

Lalu, tahun 2022, apa yang harus dilakukan oleh RS menghadapi semua perubahan yang cepat dan fundamental ini?. Jelas tidak mudah, selain karena persaingan antar RS yang ada, munculnya RS baru dengan pemodal besar, tumbuhnya pelayanan kesehatan alternatif yang saya jelaskan di atas, juga perubahan regulasi yang cepat dan tidak menentu. Salah satu tips yang sering disampaikan para ahli dalam webinar sepanjang tahun kemarin adalah menjadi organisasi yang “AGILE”, yaitu organisasi yang lincah dan cepat beradaptasi, . Namun masalahnya adalah agile yang bagaimana?, dan bagaimana meresponnya?. Mengutip sebuah jurnal yang terbit 5 tahun lalu namun masih relevan mengatakan bahwa, Hospitals’ uncertainty about the future is another reason the dynamic capabilities framework has become relevant (Agwunobi A, Osborne P, 2016). Bahwa keadaan yang tidak pasti yang dihadapi oleh RS harus disikapi dengan memiliki kemampuan lebih yang dinamis, yang mampu merespon perubahan keadaan dengan cepat. Ada empat kemampuan yang harus dimiliki oleh RS menurut jurnal di atas.

Koordinasi dalam penyusunan RAPB Tahun 2022 di salah satu RS JRSM/A

Pertama, Sensing yaitu kemampuan membaca perubahan yang akan terjadi. Tentu tidak mudah, tapi begitu berhasil membaca arah perubahan maka peluang ada di depan mata. Betapa banyak para spekulan masker medis yang untung besar dengan adanya pandemi ini. Mereka pandai membaca situasi sehingga memborong lebih dahulu, sementara yang terlambat bukannya untung tapi malah buntung. RS termasuk yang buntung dalam hal ini.

Kedua, Shaping yaitu kemampuan RS membentuk peluang pasar, tidak hanya beradaptasi. Munculnya layanan kesehatan alternatif adalah contoh dari shaping ini. Maka setiap masalah atau kesulitan pasien harus dijawab dengan menawarkan produk layanan yang solutif tanpa menunggu permintaan pasien. Memang ada resiko tidak direspon pasar, tetapi begitu diterima pasar akan menjadi yang terdepan dalam pelayanan, dan ini adalah keuntungan tersendiri bagi RS.

Ketiga, Seizing yaitu menangkap peluang secara efektif. Disini berbicara tentang kemampuan eksekusi dengan keberanian melakukan investasi yang tepat, baik itu investasi alat dan sarana, maupun sumberdaya manusia. Pepatah jawa mengatakan “ jer basuki mawa bea”, sebuah usaha tentu membutuhkan biaya. Seorang CEO RS bercerita ke saya, keberaniannya investasi mesin PCR sebesar 10 milyar terbayar hanya 1  bulan operasionalnya, selebihnya cuan.

Keempat, Transformation/reconfiguration adalah kemampuan untuk mengkonfigurasi ulang struktur organisasi dan aset, seiring dengan perubahan pasar dan teknologi. Kemampuan sensing, shaping, dan seizing tidak akan muncul tanpa transformasi organisasi. Yang terjadi adalah kelambatan atau kebuntuan eksekusi dari apa yang sudah direncanakan. Sering direktur tidak berani ambil keputusan karena menunggu persetujuan pemilik RS.

Hikmah yang dapat diambil dari penjelasan di atas adalah, menghadapi lingkungan usaha RS yang volatile, uncertain, complex, and ambiguous (VUCA), tidak cukup lagi dihadapi dengan gaya manajemen konvensional yang mengandalkan planning, organizing, actuating, and controling ( POAC), tapi harus dihadapi dengan pendekatan  dinamis yang mendukung terciptanya keunggulan bersaing (competitive advantage). Selamat tahun baru.

 

twitter@dokter_absor

 

Last Updated on Tuesday, 04 January 2022 13:26