PREDIKSI NASIB RUMAH SAKIT SETAHUN MENDATANG Print
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 15 February 2021 07:28

 

PREDIKSI NASIB RUMAH SAKIT SETAHUN MENDATANG

Januari 2021 sudah kita lewati, tidak banyak perbedaan kondisi pandemi dari tahun 2020, tetap parah. Yang menjadi pemikiran adalah bagaimana kondisi perumahsakitan sebagai pertahanan terakhir melawan pandemi covid ini, mengingat selama pandemi kunjungan pasien non covid menurun drastis. Apakah tetap survive dengan segala kemampuan bertahannya, atau semakin terpuruk karena tidak imbangnya pemasukan dan pengeluaran, ataukah malah semakin berkembang akibat kasus covid yang terus meningkat. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menganalisa apa yang sedang terjadi sekarang dan memprediksi bagaimana nasibnya rumah sakit (RS), setidaknya setahun ke depan.

Melihat tren kasus covid saat ini tidak ada tanda tanda menurun, bahkan bulan januari mencapai rekor baru satu juta pasien konfirm positif, satusatunya negara di asia tenggara yang mencapai jumlah tersebut. Angka positif harianpun mencapai 10 ribu lebih, bahkan banyak yang meyakini, termasuk saya, bahwa angka sebenarnya lebih dari itu. Pengalaman saya yang praktik tiap hari, sering mendapati pasien dengan keluhan khas covid yang tidak mau ke RS atau tes swab pcr. Artinya virus covid ini sudah beredar parah di tengah masyarakat.

Usaha pemerintah untuk menanggulangi pandemi ini bukannya tidak ada, tapi saya yakin banyak yang sepakat jika timingnya selalu terlambat, ragu ragu dan tidak efektif. Semua itu terjadi karena pemerintah berusaha mengatasi pandemi tanpa mengganggu sektor ekonomi. Wal hasil sekarang menuai konsekuensinya, ibarat pepatah untung tak bisa diraih malang tak bisa ditolak, pandemi tak jua mereda, sementara ekonomi semakin terpuruk. Defisit anggaran semakin melebar, hutangpun semakin menggunung. Haryo Kuncoro dalam Jawa Post, 3 pebruari 2021, menyebutkan defisit APBN 2020 melejit hingga 956,2 Trilyun. Beliau mengatakan bahwa tidak ada makan siang gratis, artinya setelah subsidi turun giliran akan ada kewajiban yang harus dibayar masyarakat dalam bentuk apapun, misalnya pajak.

Covid19 Vs Economi

 

Sebagai orang yang tidak terlalu paham dengan teori ekonomi, entah bagaimana cara pemerintah akan menutup defisit anggaran 2021? Tentu bukan perkara gampang. Prediksi saya, sepanjang setahun ke depan pemerintah tidak akan mudah mengeluarkan dana, baik untuk bansos maupun penanganan covid, akan lebih ketat, dikurangi atau bahkan dihentikan. Jadi, bagi RS harus bersiap diri menghadapi perubahan kebijakan yang menyulitkan.

Bagaimana dengan masyarakat? Sepertinya tidak ada pilihan, tidak mungkin orang diminta berdiam diri di rumah sepanjang hari sepanjang tahun, keadaan sudah komplek. Orang akan bertindak apapun hanya untuk bertahan hidup, perkara tertular covid itu suratan takdir. Protokol kesehatan tinggal protokol, resiko ditanggung sendiri sendiri. Inilah yang menyebabkan apapun kebijakan pemerintah menjadi mandul, mau PSBB atau PPKM, atau PSBB diperpanjang tetap saja tidak ngefek. Harapan terakhir tinggal vaksinasi, namun dipastikan tidak akan kelar selama setahun. Dampak dari ini semua adalah kasus covid tetap akan tinggi sepanjang tahun, setidaknya tetap pertambahan kasus tiap harinya.

Pada akhirnya kita berpikir apa yang akan terjadi pada dunia perumahsakitan di Indonesia?. Dari uraian di atas saya mencoba menyimpulkan dan memprediksi nasib RS setahun mendatang. Yang jelas RS masih tetap sibuk dengan pasien covid, sementara pasien non covid cenderung stagnan atau naik sedikit. Ketakutan pasien pergi ke RS rupanya sulit dihilangkan sepanjang kasus covid masih tinggi, dan juga masyarakat sudah menemukan pola alternatif dalam memelihara kesehatannya. Hanya yang betul betul membutuhkan yang datang ke RS. Pola alternatif pengobatan ini yang perlu dipelajari agar dapat dijadikan sebagai peluang pendapatan baru bagi RS.

Stagnannya pasien non covid ini selain karena takut pergi ke RS, juga karena perekonomian yang terpuruk, akibatnya orang enggan datang ke RS karena selama ini biaya berobatnya lebih mahal bila dibandingkan ke dokter praktik mandiri, atau langsung pergi ke apotik. Tapi jangan diabaikan segmen pasar premium yang masih pegang uang banyak. Segmen pasar ini masih akan datang ke RS dengan fokus terutama untuk memenuhi kebutuhan pencegahan dan perawatan kesehatan. Mereka akan ke RS untuk medical cek up dan kontrol penyakitnya. Hanya saja mereka datang ke RS yang terjamin keamanannya, dari tertular covid, serta nyaman.

Untuk kasus covid sebaiknya RS lebih berhati hati terutama dalam memenuhi kriteria pengobatan dari kemenkes, karena seiring dengan kesulitan keuangan yang dihadapi pemerintah, akan terjadi banyaknya tagihan yang dianggap bermasalah (dispute). Pola semacam ini sudah sering terjadi di BPJS, disaat BPJS kesulitan keuangan maka banyak tagihan yang dispute, sebaliknya ketika keuangan BPJS aman maka lancar jaya tagihannya, seperti sekarang. Oleh karena itu, likuiditas RS harus dipantau ketat, jangan sampai kesulitan keuangan gara gara tagihan pasien covid banyak yang belum terbayar. Bagi RS yang mengandalkan subsidi dan bantuan dari pemerintah, apakah itu APD dan sejenisnya, atau insentif tenaga medis, siap siap berkurang subsidinya, atau tertunda pengucurannya, atau bahkan dicabut.

Demikian prediksi saya setahun kedepan, bisa benar bisa juga salah, tergantung perubahan perkembangan yang terjadi. Perubahan itu bisa terjadi terutama dari trend kasus covid. Jika kasus tetap tinggi maka prediksi ini kemungkinan akan terjadi, tapi jika kasusnya cenderung turun maka mungkin akan terjadi sebaliknya. Jika banyak yang berpendapat setuju dengan prediksi ini, saya akan buat tulisan tentang apa yang harus dilakukan RS dalam kondisi seperti ini. Terima kasih.

Twitter

@dokter_absor

 

Last Updated on Monday, 15 February 2021 08:22