Dunia Management
TIDAK MAMPU MENGELOLA STAKE HOLDER, BERUJUNG MASALAH PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 01 November 2012 21:55

TIDAK MAMPU MENGELOLA STAKE HOLDER, BERUJUNG MASALAH

Akhir bulan oktober saya berkesempatan memberikan materi di hadapan 70 orang pengurus RS Muhammadiyah Jawa Timur. Acara yang dilaksanakan di hotel UMM Inn Malang ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengurus dalam mengelola rumah sakit. Sebagai organisasi massa nonprofit memang bukan hal yang mudah bagi Muhammadiyah mengelola sebuah entitas bisnis, mengingat pasien sekarang ini tidak melihat rumah sakit ini milik siapa atau latar belakang misinya apa, akan tetapi murni karena pertimbangan kualitas pelayanan. Jadi, faktor profesionalisme pengelola maupun karyawan menjadi sangat penting, padahal para pengurus ini tidak dibayar. Disinilah tantangannya, bagaimana meningkatkan kompetensi pengurus sehingga bisa berkerja profesional tapi tidak digaji. Muhammadiyah Jawa Timur saat ini memiliki 30 rumah sakit dari yang kecil sampai besar yang menjadi market leader di daerah/ kotanya.

Dalam kesempatan ini saya mendapat bagian menjelaskan problematika mengelola sebuah rumah sakit. Memang kompleksitas masalah di rumah sakit sangat tinggi. Dilihat dari profesi yang terlibat saja sudah bermacam macam, semua memiliki otoritas sendiri sendiri dan tidak bisa digantikan. Jadi tidak bisa meroling tenaga seenaknya seperti pekerja di industri lainnya. Juga produk pelayanan sangat banyak. Kalau industri lain satu pabrik cuma memproduksi puluhan produk, di rumah sakit bisa ratusan produk pelayanan, bahkan item obat yang di apotik saja sudah ribuan. Problematika ini terjadi tidak lepas dari sifat dasar industry rumah sakit yang padat karya, padat modal, padat profesi, padat teknologi, termasuk padat peraturan.

Peserta Upgrading

Last Updated on Wednesday, 28 November 2012 09:16
Read more...
 
SOSOK DIREKTUR RUMAH SAKIT YANG IDEAL PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 13 January 2012 08:45

SOSOK DIREKTUR RUMAH SAKIT YANG IDEAL

Bagus tidaknya sebuah perusahaan sering bergantung kepada pemimpinnya. Laksana sebuah kapal, nahkoda yang baik akan mampu mengarahkan bahtera ketempat yang ingin dituju oleh pemilik dan penumpangnya. Sebaliknya bila nahkodanya tidak baik, maka kapal tidak sampai pada tempat yang dituju atau bahkan tenggelam dilautan yang penuh ombak dan badai.

Begitu juga dengan rumah sakit, bagus tidaknya dipengaruhi oleh kualitas direkturnya. Direktur yang bagus akan mampu membawa rumah sakit dan sumberdaya yang ada menggapai visi yang dicita-citakan pemiliknya. Memang tidak hanya direktur yang menentukan keberhasilan sebuah rumah sakit, Masih banyak variabel lain yang mempengaruhinya, seperti SISTEM dan BUDAYA KERJA yang berlaku. Namun paling tidak, direktur yang bagus mampu menciptakan atau mengkondisikan situasi dan sumberdaya yang ada untuk mendukung tercapainya sebuah cita cita. Termasuk juga mampu menghadapi tantangan persaingan dalam industri pelayanan kesehatan yang semakin kompetitif.


Direktur RS Aisyiyah Malang Direktur RS Muhammadiyah Sepanjang

Sayangnya, mencari direktur rumah sakit yang bagus cukup sulit. Maklum saja, syarat menjadi pimpinan rumah sakit menurut undang undang rumah sakit harus tenaga medis. Kalau tidak dokter ya dokter gigi, lainnya tidak boleh. Padahal untuk memimpin rumah sakit kompetensi utamanya adalah kemampuan manajerial, yang itu tidak pernah didapatkan selama pendidikan dokter. Porsi pengetahuan medis menjadi kurang dominan lagi. Maka, meski seorang dokter jagoan dalam mengobati pasien, senior, dan memiliki pasien banyak, belum tentu mampu mengelola rumah sakit dengan baik.

Lalu bagaimanakah sosok direktur yang ideal untuk rumah sakit? Ya gampangnya adalah seorang dokter yang punya kemampuan manajerial yang bagus, punya sifat kepemimpinan yang kuat, berpengalaman, dengan personality yang baik. He he he... tentu saja sangat sulit mencari yang ideal seperti itu. Dalam beberapa kesempatan mewawancarai calon direktur saya tidak pernah menemui calon sesempurna itu.


Direktur RS Muhammadiyah Surabaya CEO Jaringan RS Muhammadiyah Jawa Timur

Saya teringat dengan pendapat wakil gubernur jawa timur, Saifullah Yusuf dalam kesempatan memberi sambutan di acara Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), beliau mengatakan bahwa ciri pemimpin yang baik adalah karakter yang kuat, memiliki kompetensi, dan punya networking yang luas. Pemimpin rumah sakitpun seharusnya begitu. Dengan karakter yang kuat akan mampu mengelola berbagai macam profesi yang saling berinteraksi, yang tak jarang saling bersitegang mempertahankan egoisme profesinya. Visi yang jelas biasanya menyertai pemimpin dengan karakter yang kuat.

Direktur RS Aisyiyah Pacar Keling Direktur RS Ahmad Dahlan kediri

Kompetensi yang dibutuhkan oleh direktur cukup banyak. Tidak hanya manajemen sumberdaya manusia yang penting dalam menjamin pelayanan yang ramah, tapi juga manajemen keuangan, pemasaran, logistik, sistim informasi, keperawataan, dan lain lain. Memang tidak mungkin menguasai semua secara mendalam tapi paling tidak mengerti kerangka berfikirnya sehingga bisa berkomunikasi dan memberi arahan kepada bawahan.

Kemampuan membangun jejaring diperlukan guna membangun kerjasama dengan pihak luar untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Semisal untuk mendapatkan tenaga medis (dokter atau perawat) yang bagus seringkali didapatkan dari hubungan dan lobi banyak pihak. Inilah gunanya jejaring. Seorang direktur juga harus bisa membina hubungan yang baik dengan regulator ( IDI, PERSI, dinas kesehatan, organisasi profesi, dll) agar tidak ketinggalan informasi mengingat perubahan peraturan di dunia perumah-sakitan sangat cepat sekali.

Itulah poin poin penting bagi seorang direktur menurut pandangan dan pengalaman saya, semoga bermanfaat.

Last Updated on Friday, 13 January 2012 09:36
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 9 of 12