Dunia Management
SOSOK DIREKTUR RUMAH SAKIT YANG IDEAL PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 13 January 2012 08:45

SOSOK DIREKTUR RUMAH SAKIT YANG IDEAL

Bagus tidaknya sebuah perusahaan sering bergantung kepada pemimpinnya. Laksana sebuah kapal, nahkoda yang baik akan mampu mengarahkan bahtera ketempat yang ingin dituju oleh pemilik dan penumpangnya. Sebaliknya bila nahkodanya tidak baik, maka kapal tidak sampai pada tempat yang dituju atau bahkan tenggelam dilautan yang penuh ombak dan badai.

Begitu juga dengan rumah sakit, bagus tidaknya dipengaruhi oleh kualitas direkturnya. Direktur yang bagus akan mampu membawa rumah sakit dan sumberdaya yang ada menggapai visi yang dicita-citakan pemiliknya. Memang tidak hanya direktur yang menentukan keberhasilan sebuah rumah sakit, Masih banyak variabel lain yang mempengaruhinya, seperti SISTEM dan BUDAYA KERJA yang berlaku. Namun paling tidak, direktur yang bagus mampu menciptakan atau mengkondisikan situasi dan sumberdaya yang ada untuk mendukung tercapainya sebuah cita cita. Termasuk juga mampu menghadapi tantangan persaingan dalam industri pelayanan kesehatan yang semakin kompetitif.


Direktur RS Aisyiyah Malang Direktur RS Muhammadiyah Sepanjang

Sayangnya, mencari direktur rumah sakit yang bagus cukup sulit. Maklum saja, syarat menjadi pimpinan rumah sakit menurut undang undang rumah sakit harus tenaga medis. Kalau tidak dokter ya dokter gigi, lainnya tidak boleh. Padahal untuk memimpin rumah sakit kompetensi utamanya adalah kemampuan manajerial, yang itu tidak pernah didapatkan selama pendidikan dokter. Porsi pengetahuan medis menjadi kurang dominan lagi. Maka, meski seorang dokter jagoan dalam mengobati pasien, senior, dan memiliki pasien banyak, belum tentu mampu mengelola rumah sakit dengan baik.

Lalu bagaimanakah sosok direktur yang ideal untuk rumah sakit? Ya gampangnya adalah seorang dokter yang punya kemampuan manajerial yang bagus, punya sifat kepemimpinan yang kuat, berpengalaman, dengan personality yang baik. He he he... tentu saja sangat sulit mencari yang ideal seperti itu. Dalam beberapa kesempatan mewawancarai calon direktur saya tidak pernah menemui calon sesempurna itu.


Direktur RS Muhammadiyah Surabaya CEO Jaringan RS Muhammadiyah Jawa Timur

Saya teringat dengan pendapat wakil gubernur jawa timur, Saifullah Yusuf dalam kesempatan memberi sambutan di acara Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), beliau mengatakan bahwa ciri pemimpin yang baik adalah karakter yang kuat, memiliki kompetensi, dan punya networking yang luas. Pemimpin rumah sakitpun seharusnya begitu. Dengan karakter yang kuat akan mampu mengelola berbagai macam profesi yang saling berinteraksi, yang tak jarang saling bersitegang mempertahankan egoisme profesinya. Visi yang jelas biasanya menyertai pemimpin dengan karakter yang kuat.

Direktur RS Aisyiyah Pacar Keling Direktur RS Ahmad Dahlan kediri

Kompetensi yang dibutuhkan oleh direktur cukup banyak. Tidak hanya manajemen sumberdaya manusia yang penting dalam menjamin pelayanan yang ramah, tapi juga manajemen keuangan, pemasaran, logistik, sistim informasi, keperawataan, dan lain lain. Memang tidak mungkin menguasai semua secara mendalam tapi paling tidak mengerti kerangka berfikirnya sehingga bisa berkomunikasi dan memberi arahan kepada bawahan.

Kemampuan membangun jejaring diperlukan guna membangun kerjasama dengan pihak luar untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Semisal untuk mendapatkan tenaga medis (dokter atau perawat) yang bagus seringkali didapatkan dari hubungan dan lobi banyak pihak. Inilah gunanya jejaring. Seorang direktur juga harus bisa membina hubungan yang baik dengan regulator ( IDI, PERSI, dinas kesehatan, organisasi profesi, dll) agar tidak ketinggalan informasi mengingat perubahan peraturan di dunia perumah-sakitan sangat cepat sekali.

Itulah poin poin penting bagi seorang direktur menurut pandangan dan pengalaman saya, semoga bermanfaat.

Last Updated on Friday, 13 January 2012 09:36
 
PERTIMBANGAN DALAM MENGEMBANGKAN SEBUAH RUMAH SAKIT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 04 November 2011 13:07

PERTIMBANGAN DALAM MENGEMBANGKAN SEBUAH RUMAH SAKIT

Tidak jarang saya ditanya orang tentang "bagaimana caranya mendirikan rumah sakit.....?" Atau pertanyaan lain tapi mirip, "bagaimana mengembangkan rumah sakit......?" Dua duanya ditanyakan dalam kontek membangun secara fisik sebuah rumah sakit yang akan didirikan, atau menambah ruangan, baik ruang pelayanan maupun kantor. Termasuk juga bagaimana merenovasi bangunan yang sudah tidak layak.

Pada dasarnya ada tiga jenis pembangunan di rumah sakit. Pertama, Membangun rumah sakit baru. Kedua, perluasan bangunan. Ketiga, merenovasi bangunan yang sudah ada. Sebagian besar alasan pembangunan biasanya merespon perkembangan lingkungan sekitarnya. Peluang pasar orang sakit menjadi alasan orang mendirikan rumah sakit baru. Peluang pasar itu ditunjukkan dari antrean pasien di dokter praktek, rumah sakit umum daerah, apotik, atau banyaknya pasien yang berobat ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri.

Rumah sakit yang sedang berkembang juga membutuhkan ruangan atau lokasi baru untuk menjawab kebutuhan pasien, khususnya dalam hal kapasitas tempat tidur atau memperluas jenis pelayanan. Tentu ini bisa dilakukan apabila luas tanah yang tersedia masih mencukupi. Sedangkan bagi yang memiliki lahan terbatas, pilihannya tinggal renovasi atau meninggikan bangunan alias membangun lagi di lahan yang sama.

Finishing Touch Gedung Baru RSMG

Membangun rumah sakit memang sangat berbeda bila dibandingkan dengan bangunan publik lainnya. Ada hal hal khusus yang harus dipertimbangkan. Diantaranya, pasien safety, alur barang bersih kotor, alur pengunjung, sterilitas ruangan, standarisasi ruangan menurut aturan yang berlaku, dll. Pertimbangan lain seperti bangunan pada umumnya adalah konstruksi bangunan, mekanika elektrik, arsitektur, saluran air bersih air kotor, instalasi air limbah, parkir, zoning area, dsb. Semua hal di atas dipertimbangkan pada saat proses rancang bangun.

walaupun begitu, agar bangunan yang digarap nantinya mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan tidak sia sia, maka ada hal penting yang harus dipertimbangkan sebelum membangun, meluaskan, atau renovasi sebuah rumah sakit. Jangan sampai bangunan sudah jadi tetapi malah menjadi beban operasional rumah sakit karena tidak meningkatkan kinerja keuangan. Atau bahkan bangunan mangkrak di tengah jalan karena terganjal persoalan.

Last Updated on Friday, 04 November 2011 13:32
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 9 of 12