Dunia Management
MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN RUMAH SAKIT DG MODAL PAS PASAN PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Tuesday, 30 July 2013 14:13

MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN RUMAH SAKIT DG MODAL PAS PASAN

Study Kasus dari Sebuah Jaringan Rumah Sakit di India

Rumah sakit kini sudah jamak dianggap sebagai sebuah bisnis yang mempunyai ciri padat karya, padat teknologi, padat profesi, juga padat aturan. Konsekuensi dari semua ini adalah tingginya biaya untuk membangun serta mengoperasikan sebuah rumah sakit alias padat modal. Bagi rumah sakit swasta tentu semua biaya akan ditanggung oleh pasien, maka jangan tanya dimana letak fungsi sosial ekonominya, jadi tidak salah bila banyak orang menyebut rumah sakit sebagai sebuah industri.

Namun bagi dua orang dokter di India, semua itu malah menjadi tantangan sekaligus peluang dalam bisnis rumah sakit. Bagaimana dapat mendirikan rumah sakit dengan biaya minim dan di saat yang sama membantu pasien yang tidak mampu dengan biaya berobat yang murah, mereka adalah dr. Ashwin Naik dan dr. Veerendra Hiremath. Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi pelayanan kesehatan di desa dan kota kecil kedua sahabat ini ingin mendirikan rumah sakit di kota kecil yang murah untuk kelas bawah dengan kualitas pelayanan yang baik.

Kedua dokter ini melihat bahwa selama ini masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang baik harus dirujuk ke kota yang jauh dari tempat tinggalnya. Hal ini menyebabkan biaya berobat membengkak serta tidak nyaman dan aman bagi penderita. Seringkali terjadi penanganan terlambat dan penyakitnya menjadi tidak reversible lagi.

Aswin dan Veerendra sadar bahwa tidak mudah mendirikan sebuah rumah sakit di kota kecil, selain modal juga tersedianya dokter yang bersedia di tempatkan. Oleh karena itu mereka membuat terobosan dengan melibatkan sumberdaya yang ada di kota tersebut secara maksimal untuk mewujudkan impiannya. Langkah yang diambil sebagai berikut:

Merekrut dokter lokal di kota tempat yang akan didirikan rumah sakit. Agar bersedia si dokter tidak hanya ditawari gaji yang menarik, tapi juga dilibatkan dalam permodalan. Langkah ini yang paling penting, keberhasilan merekrut dokter yang berkualitas akan menjamin keberlangsungan rumah sakit.

Last Updated on Tuesday, 30 July 2013 14:35
Read more...
 
LOW COST HOSPITAL PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 17 May 2013 18:41

LOW COST HOSPITAL

Kalau dengar kata low cost carier atau low cost airline pasti dalam benak kita terbayang maskapai penerbangan yang berbiaya murah, diantaranya yang kita kenal adalah Lion Air, Sriwijaya Air, dan Air Asia. Dengan tiket yang murah kini banyak orang bisa merasakan naik pesawat terbang, bahkan menjadi pilihan pertama jika berpergian mengingat waktu tempuh yang lebih cepat dibanding moda transportasi lainnya. Cocok dengan tag line maskapainya yaitu membuat semua orang bisa terbang.

Karena tiketnya murah maka fasilitas dan pelayanan yang disajikan serba minimal dan standart, bahkan terkesan kurang nyaman. Jarak kursi yang rapat membuat kaki tidak bisa bebas bergerak, lutut mepet dengan kursi di depan, bahu kita dengan bahu penumpang sebelah bersinggungan, apalagi kalau penumpang sebelah berbadan besar bisa bisa tubuh kita tidak dapat bergerak hingga turun pesawat. Tidak ada layanan makan ataupun snack selama perjalanan, dapat permen aja sudah untung. Untuk cek in kita harus sabar antri karena banyaknya jumlah penumpang. Begitu pula saat menunggu di ruang tungu keberangkatan, suasanyanya mirip dengan terminal bis, saking kroditnya sering tidak kebagian tempat duduk. Kalau ingin nyaman tunggu saja di launge, bisa makan sepuasnya, duduk santai sambil minum kopi dan baca Koran, tapi bayar sendiri. Jadi kalau kena delay tidak terlalu gerah dan gelisah.

Tapi dibalik keterbatasan pelayanan di atas, semua maskapai memberikan jaminan keselamatan selama penerbangan. Oleh karena itu dalam kondisi apapun prosedur keselamatan selalu dilakukan seperti memperagakan cara penyelamatan diri. Paling tidak lolos dari persyaratan keselamatan penerbangan dari pihak otoritas yang berwenang. Inilah yang disebut sebagai fungsional benefit, dalam kontek penerbangan yaitu menawarkan manfaat berupa mengantarkan penumpang dengan selamat sampai ke tujuan, sedangkan emosional benefit diminimalkan agar bisa menekan harga, yang penting sampai.

lalu bagaimana dengan Low Cost Hospital, pernah dengar?. Yah kita mungkin dengar pertama kali saat Tony Fernandes sang pemilik Air Asia menyampaikan ide itu dan dimuat di surat kabar. Kemudian disusul dengan berita bahwa BUMN akan membuat rumah sakit berbiaya murah. Selain itu kita juga dengar bahwa salah satu konglomerasi Indonesia akan mendirikan beberapa rumah sakit dengan kapasitas 1000 tempat tidur. Tapi bagaimana gambaran low cost hospital ini, apakah seperti low cost airline, fasilitas dan pelayanan terbatas yang penting sembuh. Saya akan coba merekonstruksikan sebuah rumah sakit dengan tarip murah tapi tetap memenuhi standar pelayanan.

Last Updated on Friday, 17 May 2013 18:50
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 7 of 12