Dunia Management
LOW COST HOSPITAL PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 17 May 2013 18:41

LOW COST HOSPITAL

Kalau dengar kata low cost carier atau low cost airline pasti dalam benak kita terbayang maskapai penerbangan yang berbiaya murah, diantaranya yang kita kenal adalah Lion Air, Sriwijaya Air, dan Air Asia. Dengan tiket yang murah kini banyak orang bisa merasakan naik pesawat terbang, bahkan menjadi pilihan pertama jika berpergian mengingat waktu tempuh yang lebih cepat dibanding moda transportasi lainnya. Cocok dengan tag line maskapainya yaitu membuat semua orang bisa terbang.

Karena tiketnya murah maka fasilitas dan pelayanan yang disajikan serba minimal dan standart, bahkan terkesan kurang nyaman. Jarak kursi yang rapat membuat kaki tidak bisa bebas bergerak, lutut mepet dengan kursi di depan, bahu kita dengan bahu penumpang sebelah bersinggungan, apalagi kalau penumpang sebelah berbadan besar bisa bisa tubuh kita tidak dapat bergerak hingga turun pesawat. Tidak ada layanan makan ataupun snack selama perjalanan, dapat permen aja sudah untung. Untuk cek in kita harus sabar antri karena banyaknya jumlah penumpang. Begitu pula saat menunggu di ruang tungu keberangkatan, suasanyanya mirip dengan terminal bis, saking kroditnya sering tidak kebagian tempat duduk. Kalau ingin nyaman tunggu saja di launge, bisa makan sepuasnya, duduk santai sambil minum kopi dan baca Koran, tapi bayar sendiri. Jadi kalau kena delay tidak terlalu gerah dan gelisah.

Tapi dibalik keterbatasan pelayanan di atas, semua maskapai memberikan jaminan keselamatan selama penerbangan. Oleh karena itu dalam kondisi apapun prosedur keselamatan selalu dilakukan seperti memperagakan cara penyelamatan diri. Paling tidak lolos dari persyaratan keselamatan penerbangan dari pihak otoritas yang berwenang. Inilah yang disebut sebagai fungsional benefit, dalam kontek penerbangan yaitu menawarkan manfaat berupa mengantarkan penumpang dengan selamat sampai ke tujuan, sedangkan emosional benefit diminimalkan agar bisa menekan harga, yang penting sampai.

lalu bagaimana dengan Low Cost Hospital, pernah dengar?. Yah kita mungkin dengar pertama kali saat Tony Fernandes sang pemilik Air Asia menyampaikan ide itu dan dimuat di surat kabar. Kemudian disusul dengan berita bahwa BUMN akan membuat rumah sakit berbiaya murah. Selain itu kita juga dengar bahwa salah satu konglomerasi Indonesia akan mendirikan beberapa rumah sakit dengan kapasitas 1000 tempat tidur. Tapi bagaimana gambaran low cost hospital ini, apakah seperti low cost airline, fasilitas dan pelayanan terbatas yang penting sembuh. Saya akan coba merekonstruksikan sebuah rumah sakit dengan tarip murah tapi tetap memenuhi standar pelayanan.

Last Updated on Friday, 17 May 2013 18:50
Read more...
 
ERA BPJS, BAGAIMANA NASIB RS SWASTA DAN DOKTER? PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 08 April 2013 16:49

ERA BPJS, BAGAIMANA NASIB RS SWASTA DAN DOKTER?

Mulai 1 Januari 2014 pemerintah akan melaksanakan amanah undang undang no. 29 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Konsekuensinya, beberapa asuransi pemerintah yang kita kenal saat ini akan dilebur menjadi satu dan dikelola oleh badan baru yang bernama BPJS. Yang akan dilebur adalah Askes PNS, Jamsostek, Asabri, dan Jamkesmas, keseluruhan ada 121,6 juta peserta, 96 juta diantaranya ditanggung penuh oleh pemerintah. cakupan peserta diharapkan tiap tahun akan meningkat hingga tahun 2019 diperkirakan seluruh penduduk akan tercover oleh asuransi. Inilah yang disebut sebagai Universal Coverage. Kabarnya untuk menggerakkan program ini pemerintah akan menggelontorkan dana yang tidak sedikit, sekitar 25 30 trilyun rupiah setahun.

Bagi masyarakat tentu kabar yang menggembirakan karena jaminan kesehatan akan didapat lebih pasti serta tidak ribet lagi urusannya, semua penduduk akan ditanggung, itulah konsepnya. Walaupun semua itu tidak akan terjadi serta merta di tahun 2014, perlu proses dan waktu. Tapi bagi kalangan RS swasta dan dokter, konsep BPJS ini membuat mereka seperti di persimpangan jalan. Ikut BPJS kuatir rugi atau menurun profitnya, kalau tidak ikut kuatir kehilangan pasien karena semua pasien berobat ke provider BPJS. Jadi enaknya ikut jadi provider apa tidak? Sebelum memutuskan perlu dijawab dulu pertanyaan di bawah ini

  1. Rugi ataukah untung gabung jadi provider BPJS?
  2. Bagaimana Nasibnya bila gabung..?
  3. Bagi dokter yang merawat pasien di RS, lebih baik bersedia atau tidak dalam merawat/melayani pasien BPJS?

Saya akan coba menjelaskan satu persatu sesuai dengan yang saya pahami, untuk memprediksi yang terjadi di masa akan datang, tentu bisa benar, bisa juga salah.

Roadmap Kepesertaan

Last Updated on Monday, 08 April 2013 19:11
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 7 of 12