Dunia Management
OPTIMISME DOKTER INDONESIA MENGHADAPI AFTA DAN BPJS PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Wednesday, 20 November 2013 18:00

OPTIMISME DOKTER INDONESIA MENGHADAPI AFTA DAN BPJS

Tanggapan tulisan dr ario djatmiko (JP/ 20 sept 2013)

Membaca tulisan guru saya dokter Ario Djatmiko (JP, 20 September 2013) membuat napas jadi sesak, betapa tidak, profesi yang saya geluti saat ini diramal dokter Mik (begitu biasa saya menyapa) masa depan suram. Ada dua hal yang dijelaskan dalam tulisan itu, pertama, suramnya pendidikan dokter karena adanya rumor nepotisme dalam penerimaan mahasiswa kedokteran maupun pendidikan dokter spesialis. Bila rumor ini benar tentu mengancam kualitas lulusan dokter. Ke dua, akibat arus globalisasi berupa kebijakan AFTA (ASEAN Free Trade Area) dan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), praktik dokter mandiri akan tergusur dan memaksa dokter menjadi buruh di pelayanan kesehatan atau ikut memiliki saham. Begitu absurdkah profesi yang saya jalani nantinya?. Ataukah itu hanya ungkapan kekhawatiran seorang pendidik atas nasib muridnya?

Kita sering mendengar nasehat orang bijak,apa yang kamu pikirkan itu yang akan kamu ucapkan, apa yang kamu ucapkan akan menjadi tindakan, dan apa yang kamu lakukan akan menjadi kenyataan. Saya tidak ingin kekhawatiran dokter Mik menjadi kenyataan, oleh karena itu saya lebih suka memandang masalah ini dari sudut pandang yang optimis dan positif.

Last Updated on Wednesday, 20 November 2013 18:13
Read more...
 
DASAR PENENTUAN HARGA PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 23 September 2013 19:05

DASAR PENENTUAN HARGA PELAYANAN DI RUMAH SAKIT

Mengelola rumah sakit sekarang bukan perkara mudah lagi. Tidak hanya dituntut untuk memberi kepuasan kepada pelanggan, karyawan, apalagi dengan pemilik, tetapi juga dituntut mampu menghadapi lingkungan persaingan dan tuntutan regulasi pemerintah. Di saat yang sama rumah sakit sebagai organisasi bisnis dituntut untuk menghasilkan keuntungan baik dalam bentuk uang ataupun value yang lain. Maka kepandaian manajer dalam mengatur pendapatan dan pengeluaran menjadi sangat penting diperhatikan. Salah satu variable penting yang menentukan besar pendapatan adalah harga pelayanan, disamping volume omset atau jumlah kunjungan pasien.

Sayangnya, kondisi di atas menyebabkan tidak leluasa menetapkan harga. Harga yang sudah dihitung sering kali tidak cocok dengan harga pasaran. Misalnya, tarif kamar zaal berdasarkan perhitungan muncul angka 200 ribu rupiah per hari, sedangkan tarif di rumah sakit pesaing cuman 150 ribu dengan fasilitas yang sama, atau 250 ribu dengan fasilitas yang sama. Ke dua hal ini memaksa kita sebagai manajer rumah sakit mempertimbangkan kembali besaran tarif yang akan diberlakukan. Kasus yang semacam ini menandakan bahwa rumah sakit tidak lagi sebagai penentu harga pelayanan (price maker) tetapi sebagai price taker, inilah yang terjadi dalam sistem BPJS, kalau sepakat harganya silahkan gabung, kalau tidak setuju ya jangan gabung. Bagaimanakah menyikapi masalah ini? Saya akan mencoba membahas dalam sudut pandang pertimbangan dalam menentukan harga.

Lobby n Kasir

Last Updated on Monday, 23 September 2013 19:15
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 6 of 12