Dunia Management
MARKETING RUMAH SAKIT 4.0 PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Wednesday, 06 June 2018 14:08

 

MARKETING RUMAH SAKIT 4.0

 

Beberapa bulan lalu saya memperoleh buku yang saya cari cari selama ini, Marketing 4.0. Sebelumnya saya sudah mencari di beberapa toko buku, Gramedia, Gunung Agung, Toga Mas, maupun Uranus semuanya tidak tersedia. Akhirnya saya dapatkan secara tidak sengaja di toko buku Periplus bandara lombok saat menunggu boarding balik ke Surabaya. Lumayanlah....di tengah tugas kunjungan ke Lombok yang melelahkan, sehari pergi pulang terbayar oleh buku ini. Kunjungannya sendiri untuk melihat proses pembangunan rumah sakit di sana.

Buku ini menarik karena kelanjutan dari buku sebelumnya yang best seller yaitu Marketing 3.0, yang sudah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa. Judul lengkap dari buku ini adalah Marketing 4.0-moving from traditional to digital. Dikarang oleh Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan dengan menggandeng nama besar Philip Kotler. Diluncurkan sejak akhir tahun lalu sampai sekarang sdh diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, sayangnya bahasa Indonesia tidak ada. Penerbitnya John Wiley & Son di Amerika, rupanya ini yang menyebabkan tidak beredar di sini, tidak ada penerbit Indonesia yang berani ambil ijin menerjemahkan ke penerbitnya, padahal pengarangnya orang Indonesia.

 


Dibeli di Bandara Lombok

Dibeli di Bandara Lombok

 

Last Updated on Thursday, 07 June 2018 08:48
Read more...
 
BPJS BISA BANGKRUT edisi II PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 30 October 2017 15:41

BPJS BISA BANGKRUT edisi II

Hari hari ini para direktur rumah sakit sedang galau....galau yang serius bukan galaunya ABG yang sedang putus cinta. Pasalnya tagihan ke BPJS yang menjadi haknya rumah sakit belum terbayarkan meskipun sudah lewat batas yang ditetapkan undang undang yakni 15 hari kerja. Akibatnya jelas mengganggu cashflow keuangan rumah sakit. Dampaknya apabila diteruskan pasti terjadi kegagalan manajemen dalam memenuhi kewajiban terhadap stakeholdernya. Inilah dampaknya, tidak bisa bayar tagihan supplier khususnya obat dan bahan medis sekali pakai,  tidak bisa bayar gaji karyawan maupun dokter mitra, dan tidak bisa melakukan pemeliharaan fasilitas pelayanan.

Mengapa BPJS bisa kualahan membayar kewajibannya kepada rumah sakit? Jawabannya jelas karena kekurangan cashflow alias defisit. Uang yang dikumpulkan jauh lebih sedikit daripada yang dikeluarkan untuk bayar tagihan dari rumah sakit dan provider lainnya, dan jumlahnya dari tahun 2014 sampai sekarang semakin besar defisitnya. Data tidak resmi disebutkan tahun 2014 defisit 3,3 trilyun, 2015 sebesar 5,85 trilyun, 2016 menjadi 7 trilyun, dan 2017 hingga bulan ini kabarnya sudah mencapai 9 trilyun defisitnya.

Sebenarnya fenomena negara membiayai asuransi kesehatan rakyatnya adalah hal yang biasa bahkan merupakan kewajiban. Jadi kalaupun defisit, sebenarnya itulah angka yang harus ditangung pemerintah dalam membiayai kesejahteraan kesehatan rakyatnya.  Dan hampir semua negara yang sistem asuransinya baik sebagian besar biayanya ditanggung negara. Tentu saja kemampuan keuangan negara harus bagus alias negara kaya. Lihat saja 10 negara dengan asuransi terbaik di dunia adalah negara kaya dengan GDP perkapita lebih dari US$30.000. Versi sindonews.com 2015 10 negara tersebut adalah Swiss, Perancis, Itali, Swedia, Taiwan, Jerman, Norwegia, Israel, Inggris, dan Canada. Bandingkan dengan Indonesia yang GDP perkapitanya hanya US$3.605,1 (BPS 2016), bagaikan langit dengan bumi bedanya. Jadi kalau BPJS sampai gagal bayar itu artinya pemerintah tidak siap menanggung konsekuensi kebijakannya sendiri.

Last Updated on Monday, 30 October 2017 16:20
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 1 of 12