My University Of Life
Mengenang Seorang Carlos PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 02 May 2016 11:09

MENGENANG SEORANG CARLOS

Tidak mengira perjumpaan dengan Carlos di pantai Santa Monica California mengandung makna mendalam baginya. Menikmati sunset sambil makan bareng di pantai ternyata bagian dari tugasnya sebagai relawan citizen diplomat, Carlos sendiri seharian sebagai pegawai pemerintah kota Santa Monica. Berikut tulisannya.

berikut tulisan Carlos :

https://medium.com/@StateIVLP/why-hosting-matters-to-me-a-los-angeles-citizen-diplomats-perspective-89f8089175a7#.1eqqd3slg

Why Hosting Matters to Me: A Los Angeles Citizen Diplomats Perspective

Carlos Collard, a volunteer with the International Visitors Council of Los Angeles (IVCLA), shares his experience making global connections at the local level

Carlos takes a group of Indonesian visitors to picnic at Santa Monica Beach as part of hosting them for home hospitality

Oh, you speak Arabic?!

That was the interpreted response, along with wide eyes and even wider smiles, I received from two Saudi Arabian leaders when I picked them up from their hotel for dinner on my birthday three years ago. Unfortunately, I did not speak Arabic, but I had learned and practiced greeting them and introducing myself in their native language in anticipation of this evening. It was my first time hosting as a citizen diplomat of theInternational Visitor Council of Los Angeles (IVCLA), a community-based member of theGlobal Ties U.S. network, and I didnt know what to expect.

My lack of Arabic was exposed within seconds when I embarrassingly couldnt respond, but thats why they had an interpreter accompanying them during their time in the United States. We all laughed and walked together to a Nepali restaurant close to their hotel so they could try cuisine they had never had before. We talked for at least a couple of hours before the evening ended with the presentation of a Saudi gift to me and an invitation to go camping, cook good food, and meet nomads in the Saudi desert with one participants family. This hosting experience was an everlasting birthday present, setting the tone for how I saw my role as a U.S. citizen diplomat. It was the beginning of my understanding of why hosting matters.

As a volunteer and Chair of IVCLAs Young Professionals Steering Committee, I have hosted and engaged with exchange participants from the U.S. Department of StatesInternational Visitor Leadership Program (IVLP) and Open World Leadership Center from over 50 countries and from almost every continent (Im still waiting for that Antarctica visitor). I've volunteered with many organizations throughout my life, but this has been one of the best and most rewarding experiences.

Visiting family members of IVLP alumni during a trip through Nepal

It has changed my life through travel opportunities hosted by visitors Ive met in Los Angeles, exposure to languages, improved understanding of how we are interconnected, and most importantly, lifelong friendships across the globe. Hosting matters because I learn about countries, cultures, and issues directly from the people who are a part of them. It is the best global education. Hosting has inspired me to get apps, bookmark websites, and follow television broadcasts that connect me to international news because I now know people around the world who are affected by events both good and bad. This helps me stay connected to visitors because I can ask them for their opinion or insight into something that Ive read or watched, which ultimately continues my global education long after hosting them.

Hosting matters because I learn about countries, cultures, and issues directly from the people who are a part of them. For me, hosting is about providing comfort and authenticity. I imagine myself as the visitor. For some, its not only their first time visiting America, but also their first time leaving their home country. Some speak little to no English. When I met a tourism industry group from Turkmenistan at an IVCLA board meeting, I stood up to welcome them and introduced myself in their native Turkmen language. Halfway through my memorized phrases, they all began to applaud loudly with sparkling smiles on their faces. When I presented them with UCLA (my alma mater) key chains before they departed, one of them said, thank you for speaking our language.

The Nepali Seven Summits delegation, the first all-women team to climb the highest summit on each continent, at the beach in front of Gladstones Restaurant in Malibu

The Nepali Seven Summits delegation, the first all-women team to climb the highest summit on each continent, at the beach in front of Gladstones Restaurant in Malibu

Last Updated on Monday, 02 May 2016 12:05
Read more...
 
BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN? ANNUAL MEETING MMR FKUB PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 26 November 2015 20:50

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN?
ANNUAL MEETING MMR FKUB

Tanggal 12 november 2015 saya mendapat kesempatan berbagi pengalaman di forum pertemuan tahunan Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (MMR FKUB) di Malang. Saya diminta untuk mempresentasikan bagaimana pengalaman rumah sakit swasta menjadi provider BPJS, menguntungkan atau merugikan?.

Di hadapan sekitar 500 peserta yang hadir saya sampaikan bahwa hingga saat ini menjadi provider BPJS masih menguntungkan, meskipun prosentase keuntungan semakin menipis. Dalam keadaan demikian rumah sakit dituntut untuk adaptif terhadap perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pengelola BPJS. Mengapa demikian?, karena kebijakan BPJS sangat kental aroma politik yang memiliki sifat berubah ubah, tergantung sikap pemerintah. Bila tidak mampu beradaptasi maka kerugian akan mengancam.

Kegaduhan yang terjadi selama ini menurut saya berpangkal dari usaha BPJS menghindari defisit yang terjadi tahun 2014, yang menyebabkan banyak komplain dari peserta maupun rumah sakit. Padahal usaha menghindari defisit adalah sesuatu yang tidak mungkin, pemerintah harus mensubsidi. Hal ini karena BPJS tidak dikelola menurut kaidah kaidah asurasi yang wajar, premi yang terlalu kecil, tidak ada screening calon peserta, tidak ada plafon biaya berobat, tidak ada pembatasan penyakit yg ditanggung, dan lain lain. Masalah besar pasak daripada tiang ini juga diamini oleh prof. dr. Leksono Trisnantoro, Msc., PhD dari Universitas Gajah Mada yang tampil satu sesi dengan saya.

Last Updated on Thursday, 26 November 2015 20:55
Read more...
 
BPJS BISA BANGKRUT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Sunday, 26 April 2015 22:39

BPJS BISA BANGKRUT

Dari sekian banyak program pemerintah bidang kesehatan yang strategis, sejak dulu hingga sekarang menurut saya BPJS inilah yang paling sukses. Beberapa hal yang menguatkan penilaian ini adalah respon masyarakat. Tidak pernah ada sebelumnya program pemerintah yang direspon seantusias BPJS. Antrian pendaftar mengular, bahkan ada loket yang sejak lepas subuh sudah diantri pendaftar, saking lama dan banyaknya yang ngantri sampai sampai antriannya diganti botol, helm, atau barang lainnya milik pendaftar, luar biasa. Hebatnya, yang daftar tidak hanya golongan kelas bawah, tapi kelas menengahpun banyak yang daftar secara mandiri, artinya asuransi ini tidak dianggap sebagai programnya orang miskin seperti ASKESKIN atau JAMKESMAS dahulu. Selain itu, keberhasilan juga bisa dilihat dari awareness, hampir semua lapisan masyarakat mengenal BPJS dengan baik. Tak salah bila majalah Marketeers menempatkan BPJS dalam peringkat 4 dari 300 daftar WOW Brands, yaitu brand yang mendapat advokasi tinggi dari konsumen.

Namun, ke depan bisa jadi masyarakat tidak seantuasias saat ini sebab syarat kepesertaan tidak lagi semudah dulu. Awal diluncurkan, begitu peserta daftar hari itu juga langsung bisa digunakan di rumah sakit. Jadi hanya dengan uang 25.500 rupiah sudah bisa membiayai pasien yang rawat inap di rumah sakit, separah apapun penyakitnya. Famili saya pernah merasakan kemudahan ini, saat itu ibu sepupu saya sakit parah hingga dirawat di ICU. Karena tidak ada biaya maka saya sarankan ikut BPJS, jadi saat masuk rumah sakit masih belum jadi peserta tapi begitu masuk ICU mendaftar jadi peserta. Singkat cerita, hingga ibunya meninggal di ICU cuman bayar 600 ribu sebagai biaya rumah sakit sebelum terdaftar BPJS, hehehe....mantab benar layanannya. Tapi sekarang jangan harap bisa menikmati kemudahan itu lagi, daftar sekarang baru bisa digunakan seminggu kemudian. Kalau dulu boleh daftar satu orang, sekarang harus satu keluarga. Bayarnya harus lewat bank, jadi harus buka rekening di bank. Tentu semua pembatasan ini akan mengurangi kepuasan dan advokasi peserta, yang pada akhirnya mengurangi antusias masyarakat.

dikutip dari Majalah Marketeers

Last Updated on Monday, 27 April 2015 09:42
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 4 of 15