My University Of Life
PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 02 May 2016 07:10

Carlos Collard, a Volunteer with The International Visitor Council of Los Angeles (IVCLA), shares his experience making global connection at local level

Tidak mengira perjumpaan dengan Carlos di pantai Santa Monica California mengandung makna mendalam baginya. Menikmati sunset sambil makan bareng di pantai ternyata bagian dari tugasnya sebagai relawan citizen diplomat, Carlos sendiri seharian sebagai pegawai pemerintah kota Santa Monica. Berikut tulisannya.

https://medium.com/@StateIVLP/why-hosting-matters-to-me-a-los-angeles-citizen-diplomats-perspective-89f8089175a7#.1eqqd3slg

Last Updated on Monday, 02 May 2016 11:05
 
BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN? ANNUAL MEETING MMR FKUB PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 26 November 2015 20:50

BPJS, MENGUNTUNGKAN ATAU MERUGIKAN?
ANNUAL MEETING MMR FKUB

Tanggal 12 november 2015 saya mendapat kesempatan berbagi pengalaman di forum pertemuan tahunan Magister Manajemen Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (MMR FKUB) di Malang. Saya diminta untuk mempresentasikan bagaimana pengalaman rumah sakit swasta menjadi provider BPJS, menguntungkan atau merugikan?.

Di hadapan sekitar 500 peserta yang hadir saya sampaikan bahwa hingga saat ini menjadi provider BPJS masih menguntungkan, meskipun prosentase keuntungan semakin menipis. Dalam keadaan demikian rumah sakit dituntut untuk adaptif terhadap perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pengelola BPJS. Mengapa demikian?, karena kebijakan BPJS sangat kental aroma politik yang memiliki sifat berubah ubah, tergantung sikap pemerintah. Bila tidak mampu beradaptasi maka kerugian akan mengancam.

Kegaduhan yang terjadi selama ini menurut saya berpangkal dari usaha BPJS menghindari defisit yang terjadi tahun 2014, yang menyebabkan banyak komplain dari peserta maupun rumah sakit. Padahal usaha menghindari defisit adalah sesuatu yang tidak mungkin, pemerintah harus mensubsidi. Hal ini karena BPJS tidak dikelola menurut kaidah kaidah asurasi yang wajar, premi yang terlalu kecil, tidak ada screening calon peserta, tidak ada plafon biaya berobat, tidak ada pembatasan penyakit yg ditanggung, dan lain lain. Masalah besar pasak daripada tiang ini juga diamini oleh prof. dr. Leksono Trisnantoro, Msc., PhD dari Universitas Gajah Mada yang tampil satu sesi dengan saya.

Last Updated on Thursday, 26 November 2015 20:55
Read more...
 
BPJS BISA BANGKRUT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Sunday, 26 April 2015 22:39

BPJS BISA BANGKRUT

Dari sekian banyak program pemerintah bidang kesehatan yang strategis, sejak dulu hingga sekarang menurut saya BPJS inilah yang paling sukses. Beberapa hal yang menguatkan penilaian ini adalah respon masyarakat. Tidak pernah ada sebelumnya program pemerintah yang direspon seantusias BPJS. Antrian pendaftar mengular, bahkan ada loket yang sejak lepas subuh sudah diantri pendaftar, saking lama dan banyaknya yang ngantri sampai sampai antriannya diganti botol, helm, atau barang lainnya milik pendaftar, luar biasa. Hebatnya, yang daftar tidak hanya golongan kelas bawah, tapi kelas menengahpun banyak yang daftar secara mandiri, artinya asuransi ini tidak dianggap sebagai programnya orang miskin seperti ASKESKIN atau JAMKESMAS dahulu. Selain itu, keberhasilan juga bisa dilihat dari awareness, hampir semua lapisan masyarakat mengenal BPJS dengan baik. Tak salah bila majalah Marketeers menempatkan BPJS dalam peringkat 4 dari 300 daftar WOW Brands, yaitu brand yang mendapat advokasi tinggi dari konsumen.

Namun, ke depan bisa jadi masyarakat tidak seantuasias saat ini sebab syarat kepesertaan tidak lagi semudah dulu. Awal diluncurkan, begitu peserta daftar hari itu juga langsung bisa digunakan di rumah sakit. Jadi hanya dengan uang 25.500 rupiah sudah bisa membiayai pasien yang rawat inap di rumah sakit, separah apapun penyakitnya. Famili saya pernah merasakan kemudahan ini, saat itu ibu sepupu saya sakit parah hingga dirawat di ICU. Karena tidak ada biaya maka saya sarankan ikut BPJS, jadi saat masuk rumah sakit masih belum jadi peserta tapi begitu masuk ICU mendaftar jadi peserta. Singkat cerita, hingga ibunya meninggal di ICU cuman bayar 600 ribu sebagai biaya rumah sakit sebelum terdaftar BPJS, hehehe....mantab benar layanannya. Tapi sekarang jangan harap bisa menikmati kemudahan itu lagi, daftar sekarang baru bisa digunakan seminggu kemudian. Kalau dulu boleh daftar satu orang, sekarang harus satu keluarga. Bayarnya harus lewat bank, jadi harus buka rekening di bank. Tentu semua pembatasan ini akan mengurangi kepuasan dan advokasi peserta, yang pada akhirnya mengurangi antusias masyarakat.

dikutip dari Majalah Marketeers

Last Updated on Monday, 27 April 2015 09:42
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 3 of 14