My University Of Life
KARAKTER PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Sunday, 21 August 2011 20:44

KARAKTER PELAYANAN DI RUMAH SAKIT

Kemajuan teknologi sekarang ini semakin mempermudah pekerjaan manusia. Tak terkecuali urusan bersosialisasi. Dulu kalau buka facebook harus di layar computer, tapi sekarang dibuka pakai HP saja sudah bisa. Jadi setiap saat bisa melihat atau upload koment maupun foto. Nah suatu ketika sambil nganggur saya buka halaman facebook lewat HP, dan mataku terpaku pada status teman facebookku yang bernama Muammar Hamidi. Isinya begini,

Ga thu knp ktk msuk k hlmn RS Muh Grsk, ngrsa masuk k rmh sndr ya, plagi plynnnya, hrga obtnya trjngkau jg mmuaskn, da 1 hl yg mmbuatg slut, mrk mnyrtkn KUPON prmhonn infq Rp. 500/psien, utk MDMC, n itupn ga dpksa, jk psien ga brknan blh mnolk KUPON tsb, MANTAB, JAYALAH sllu RS Muh Grsk,

Smg mjd RS yg ga hnya mngjr tnttan Prsdural ats nma prfsional ja, jg trut srta mmprjuangkn yg ga mmpu, amien

Saat membaca status itu saya merenung ada yang menarik dari tulisannya. Bukan rasa puas terhadap pelayanan yang jelas tersurat dalam status, tapi temanku ini kesulitan mendiskripsikan perasaannya terhadap RS Muhammadiyah Gresik. Kalo komentar tentang bangunannya jelas mudah, begitu juga tentang kebersihan, karyawan, produk, harga, dll. Ada sesuatu yang tersirat yang tidak bisa dia ungkapkan. Apakah itu?

Menurut hemat saya, yang terjadi adalah dia merasa cocok dengan karakter pelayanan RS Muhammadiyah Gresik. Karakter adalah sikap dan prilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai yang diyakini. Dia tidak hanya melihat rumah sakit sebagai benda mati yang menyediakan pelayanan menyembuhkan orang sakit, tetapi lebih dari itu sebagai manusia yang mengerti perasaannya. Jadi, rumah sakit tak ubahnya seperti mahluk hidup yang dapat berinteraksi dengan sekitarnya.

salah satu komen wall customer

Mengutip www.josephsoninstitute.org menjelaskan bahwa komponen karakter terdiri dari 6 hal, yaitu:

1. Trustworthiness (kepercayaan)

2. Respect (hormat)

3. Responsibility (bertanggung jawab)

4. Fairness (berkeadilan)

5. Caring (peduli)

6. Citizenship (kewarganegaraan)

Last Updated on Sunday, 21 August 2011 21:44
Read more...
 
Menikmati kopi sambil belajar pemasaran PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 30 May 2011 12:04

Sensasi Kopi Luwak di Cafe Rollas

"Menikmati kopi sambil belajar pemasaran"

Bagi penggemar kopi tentu sudah tidak asing lagi mendengar jenis kopi yang satu ini. Nama ini diambil dari proses pemilihan biji kopi yang diambil dari kotoran binatang sejenis musang. Dimana biji kopi yang matang dimakan oleh luwak kemudian hasil pencernaan luwak ini dikeluarkan dalam bentuk kotoran yang bercampur dengan biji kopi pilihan. Proses fermentasi di dalam perut luwak inilah yang diyakini membuat rasa kopi menjadi khas dan mantab.

Proses yang unik dan natural ini membuat kopi luwak harganya sangat mahal. Perkilogram harganya mencapai dua setengah juta, waow...bandingkan dengan harga kopi di warung kopi, atau cafe resto bahkan, jauh sekali khan?.

Jenis Sajian Kopi Luwak Kopi Luwak dengan Makanan Tambahan Kopi Luwak dengan cake coklat

Dalam suatu kesempatan saya pernah bertemu dengan dua orang staf marketing PT. Perkebunan XII yang memproduksi kopi luwak. Mereka menceritakan dan mempromosikan agar saya mencoba rasa kopi luwak yang asli. Dari pertemuan itulah saya tertarik untuk mencoba, ingin merasakan sensasi kopi termahal di dunia.

Setelah sekian lama tidak sempat, akhirnya kesampaian juga merasakan sensasi kopi luwak. Bertempat di Cafe Rollas, Tunjungan Plasa Surabaya. Saya memilih tempat ini karena direkomendasikan dua orang staf marketing yang saya ceritakan di awal. Cafe ini memang unit bisnisnya PT. Perkebunan XII, oleh karena itu namanya Cafe Rollas yang berarti dua belas.

Setelah mengambil tempat duduk saya disodori daftar menu. Langsung saja saya pilih kopi luwak. Ternyata ada dua macam kopi luwak yang tersedia, yaitu kopi arabica dan robusta. Melihat keragu-raguan saya memilih kopi, pelayan bertanya, "bapak pertama kali minum kopi luwak?", saya jawab ya... Mbak Risma, si pelayan tadi, menjelaskan bahwa kopi luwak arabica rasanya lebih soft, lembut dengan aroma yang sedikit asam. Sedangkan robusta lebih kuat atau pahit. Dengan rekomendasi mbak Risma saya akhirnya memilih arabica, katanya lebih cocok buat pemula.

Tak lama berselang muncullah pesanan saya. Saya kira secangkir kopi langsung dihidangkan, ternyata tidak, Risma membawa tungku kecil yang ditaruh di meja, serta dua bola kaca sebesar kepalan tangan yang bersusun. Bagian bawah berisi air sedangkan bagian atas berisi serbuk kopi yang saya pesan. Kedua bagian ini dihubungkan dengan pipa kaca. Alat perebus kopi ini biasa disebut siphon. Terus terang ini pengalaman pertama saya melihat perebusan kopi dengan cara seperti ini, biasanya dengan cafe maker listrik. Kelihatan bahwa proses penyajian ini memang sengaja didemonstrasikan di hadapan saya untuk memberikan nilai eksklusive kopi luwak.

Sebelum mulai merebus, Risma mempersilahkan mencium aroma kopi luwak. Walaupun dijelaskan bahwa aromanya lebih enak dan sedikit wangi, tapi jujur saja saya masih belum bisa bedakan dengan kopi lainnya. Mungkin karena saya bukan penikmat kopi sejati, jadi semua kopi aromanya sama.

Read more...
 
Belajar pemasaran dari bakul ikan PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Tuesday, 01 March 2011 12:37

Sejak saya tidak menjabat sebagai direktur rumah sakit, kini punya kesibukan baru yakni membantu orang tua jaga toko di pasar. Banyak hal yang bisa saya ambil pelajaran dari perilaku penjual dan pembeli di pasar. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bakul ikan yang biasa membeber dagangannya di muka toko.

Ada hal baru dari cara mereka berjualan. Kalo dulu, ikan dijajakan di atas ember dan nampan. Kemudian penjual menawarkan ikannya kepada setiap orang yang lewat. Saat ada orang yang tertarik, dan terjadi transaksi, maka saat itu juga ikan berpindah tangan ke pembeli dan langsung dibawa pulang.

Sang Bakul Ikan

Sang Bakul yang "telaten" memberikan "service" ke pembeli...

Namun yang saya dapatkan sekarang berbeda. Ikan yang laku tidak langsung dibawa pulang, tetapi dibersihkan dulu oleh penjual ikan. Sisik dan jeroan dibuang. Kemudian dipotong potong sesuai permintaan. Sehingga pembeli membawa pulang ikan yang langsung bisa dimasak. Sambil menunggu ikan dibersihkan, pembeli bisa keliling pasar mencari kebutuhan yang lainnya.

Last Updated on Thursday, 03 March 2011 10:03
Read more...
 
«StartPrev1112131415NextEnd»

Page 14 of 15