My University Of Life
BUKAN GUE BANGET, MOHON MAAF LAHIR BATHIN PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Tuesday, 20 June 2017 12:02

BUKAN GUE BANGET, MOHON MAAF LAHIR BATHIN

Meski aktif di organisasi sosial keagamaan yaitu Muhammadiyah, tidak ada niat sedikitpun dalam hati saya untuk menjadi seorang ustadz atau ahli agama. Selain tidak fasih ilmu agama, juga terlalu berat bagi saya menanggung konsekuensinya karena masih banyak kekurangan dalam diri baik ilmu maupun perilaku. Dalam berorganisasi saya memilih dan memposisikan diri sebagai professional volunteer, yaitu seseorang yang secara sukarela berkerja untuk kemanusiaan namun tetap profesional dalam melaksanakan tugas. Profesional disini dalam arti berkerja sesuai dengan standard profesi, baik sebagai dokter maupun manajer. Juga berkerja sekuat tenaga untuk mencapai hasil yang maksimal walaupun tidak ada yang mengawasi maupun memberi target pencapaian.

Oleh karena itu saya sering menolak undangan yang meminta memberikan tausiah atau semacam ceramah agama karena itu bukan gue banget kata anak jaman sekarang, atau bukan  positioning saya kalau istilah marketing. Nanti orang akan bingung, dokter Absor ini seorang dokter, ustadz,  atau seorang manajer. Tapi kali ini saya tidak bisa menolak perintah dari kantor untuk memberikan tausiah singkat, yang direkam kemudian dishare di kanal you tube (bisa langsung di klik) dalam rangka menyemarakkan bulan ramadhan.

Alhamdulillah....walaupun dengan berat hati akhirnya tugas terselesaikan dengan satu kali pengambilan gambar. Saya mendapat bagian tema “membangun silaturrahmi”, supaya tidak terlalu jauh dari positioning dan agar tidak terkesan ceramah agama, sengaja tidak mengunakan dalil agama untuk mengembangkan tema ini, cukup dijelaskan dalam kontek dunia kesehatan.   Entahlan....apakah perform saya bisa diterima pemirsa apa tidak, silahkan dilihat dan dinilai sendiri ya....... syukur kalau bersedia memberi masukan di kolom komentar.

Akhir kata, menjelang lebaran saya mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H, semoga amal ramadhan kita diterima Allah SWT dan semoga kita dipertemukan dengan ramadhan tahun depan.....amiiien, mohon maaf atas semua salah dan khilaf saya.

twitter@dokter_absor


 

Last Updated on Wednesday, 21 June 2017 08:01
 
SANTOSA HOSPITAL BANDUNG CENTRAL, BPJS BUKAN HAMBATAN PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 20 April 2017 19:05

SANTOSA HOSPITAL BANDUNG CENTRAL, BPJS BUKAN HAMBATAN

Era BPJS sekarang ini membuat sulit bagi pengelola rumah sakit swasta, setidaknya berpikir keras agar rumah sakitnya tidak merugi. Bagai makan buah simalakama, menjadi provider BPJS takut merugi karena tarif pelayanannya rendah, sementara jika tidak menjadi provider takut ditinggal pasien karena tahun 2019 semua penduduk akan dijamin BPJS. Belum lagi dibingungkan dengan peraturan dari BPJS yang kerap berubah dalam waktu yang cepat. Meski demikian ternyata ada rumah sakit swasta besar yang mampu tumbuh berkembang dengan tetap melayani pasien BPJS.

Santosa Hospital Bandung Central (SHBC www.santosa-hospital.com) adalah salah satu contoh rumah sakit yang mampu menghadapi perubahan lingkungan yang sangat dinamis, khususnya BPJS. Saya bersama rombongan jaringan RS Muhammadiyah Jawa Timur beruntung mendapat kesempatan dari manajemen melakukan study banding di sini. Akhir Maret kami diterima di ruang pertemuan yang luas, dan mendapat penjelasan langsung dari jajaran direksi. Berlokasi di pusat kota Bandung rumah, sakit ini memiliki 8 lantai dan 2 basemen, dan sekarang sedang dibangun gedung khusus untuk tempat parkir. Sejak tahun 2010 SHBC sudah mengantongi sertifikat JCI, sebuah lembaga akreditasi rumah sakit internasional, dan juga sudah terakreditasi paripurna nasional, jadi tidak usah ditanya lagi kualitas pelayanan dari rumah sakit ini.

Last Updated on Thursday, 20 April 2017 21:24
Read more...
 
AMERICA TODAY...... PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Saturday, 04 February 2017 15:07

AMERICA TODAY......

from America 3.0 back to Amerika 1.0

Meskipun semua sudah paham apa yang ada di benak Donald Trump saat kampanye, tapi banyak yang tidak mengira setelah menjadi presiden Amerika benar benar melaksanakan janjinya. Dalam tempo sepekan Trump mengeluarkan kebijakan yang kontroversial. Yakni menarik AS dari Trans Pacific Partnership. Ke dua, memerintahkan membangun tembok pemisah dengan Mexico. Ke tiga, melarang tujuh negara dengan penduduk muslim terbanyak masuk ke AS dalam jangka waktu 90 hari. Banyak yang heran, termasuk saya, apa yang sebenarnya dimaui oleh presiden AS ke 45 ini?. Dan apa yang akan terjadi dengan AS apabila gaya kepemimpinan Trump ini terus berlanjut?. Saya tidak bermaksud mengajak pembaca membahas masalah politik karena bukan ahli politik, tapi mencoba memahami dari sudut pandang marketing, apa yang sedang terjadi dan bagaimana konsekuensinya bagi AS?

Bila kita mendudukkan pemerintah yang berkuasa sebagai produsen, maka kebijakan suatu negara bisa disebut sebagai produk. Sedangkan warganya laksana pasar (market) yang mengkonsumsi kebijakan, bahkan negara lain atau masyarakat dunia juga bisa disebut pasar karena kebijakan suatu negara bisa berimbas atau dirasakan negara lain. Bayangkan Amerika sebagai sebuah perusahaan, maka Trump sebagai CEOnya, kemudian kebijakan yang kontroversial itu sebagai produknya, sedangkan warga AS dan dunia sebagai konsumennya. Nah yang terjadi saat ini adalah banyak konsumen yang protes (tidak hanya warganya tapi juga negara lain), tidak puas terhadap produk perusahaan Amerika. Mereka merasa produk yang dikonsumsinya berbeda rasa dan karakternya dari produk CEO sebelumnya yaitu Obama.

Dalam perkembangan marketing, apa yang terjadi di AS saat ini sesuai dengan apa yang disebut sebagai marketing 1.0, yakni perkembangan awal hubungan produsen dan konsumen yang menempatkan produsen lebih tinggi dari konsumen. Pada fase ini produsen fokus membuat produk yang baik menurut dirinya dan kemudian dijual. Perkara konsumen tidak cocok atau tidak puas itu bukan urusannya, silahkan cari produk yang dijual perusahaan lain (kalau warga AS tidak puas, silahkan pindah ke negara lain, barangkali begitu pikiran Trump). Contoh fase ini ketika perusahaan BUMN memonopoli produk vital jaman dulu, layanan POS, telepon, air minum, listrik. Saat itu rakyat tidak punya kekuatan untuk protes jika layanannya buruk. Seburuk apapun pelayanannya terpaksa kita menerima atau mengkonsumsinya meski dengan perasaan kecewa.

Seiring dengan kemajuan jaman hubungan produsen dan konsumen semakin berkembang positif. Produsen semakin faham keinginan konsumen dan berusaha memberi kepuasan melalui produk yang sesuai dengan harapan. Fase ini disebut sebagai marketing 2.0.

Last Updated on Saturday, 04 February 2017 15:28
Read more...
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 2 of 15