SULITNYA MENGEMBANGKAN DIGITAL TEKNOLOGI DI RS PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Wednesday, 16 February 2022 09:32

 

SULITNYA MENGEMBANGKAN DIGITAL TEKNOLOGI DI RUMAH SAKIT

Sungguh teknologi digital adalah masalah yang krusial bagi dunia kesehatan secara umum, namun tidak mudah memahamkan bahwa teknologi digital adalah suatu keniscayaan yang harus kita geluti. Kita lihat, betapa sulitnya meminta dokter menulis hasil pemeriksaan pasien di komputer dalam sistem electronic medical record (EMR), apalagi menulis resep di komputer, susahnya minta ampun. Resep obat yang ditulis dengan cepat dan sulit dibaca seolah bagian dari jati diri seorang dokter, sehingga tidak mau diganti dengan tulisan dari komputer.

Bagi jajaran manajemen rumah sakit atau klinik, kesadaran tentang perlunya software yang digunakan untuk membantu operasional usaha sudah sangat baik, artinya mereka paham pentingnya teknologi bagi sebuah usaha, sayangnya hanya sebatas itu. Tidak banyak yang dapat memanfaatkan data yang terkumpul sebagai bahan evaluasi dan menyusun langkah strategis. Padahal dari data yang terkumpul, sangat banyak peluang usaha yang dapat diraih. Itu belum termasuk memanfaatkan media sosial untuk menggali informasi dan potensi pasar, serta menyambungkannya dengan sistem operasional di rumah sakit atau klinik sehingga proses pelayanan lebih lancar, simple, dan nyaman. Masih jauh.

Se iya sekata, pemilik juga kurang perhatian terhadap pengembangan teknologi, untuk peningkatan kinerja operasional seperti sistem informasi manajemen rumah sakit, apalagi pengembangan ke arah teknologi digital. Dari dulu hingga sekarang yang menjadi perhatian sebatas membangun gedung dan beli alat medis. Sedangkan bagaimana mengembangkan teknologi sehingga kualitas layanan menjadi lebih baik, menjangkau pasar lebih luas, serta meningkatkan kinerja yang efisien kurang mendapat perhatian serius.

Rak tempat menyimpan rekam medis yang menghabiskan ruang banyak, sudah waktunya diganti dengan rak virtual

Rak tempat menyimpan rekam medis yang menghabiskan ruang banyak,sudah waktunya diganti dengan rak virtual.


Memang tidak mudah mengembangkan teknologi digital karena secara teknis memang tidak banyak yang menguasai. Mencari pengembang program yang kita bayarpun sulit, kalaupun ada yang bagus harganya tidak terjangkau. Namun sejatinya teknologi digital bukanlah soal program atau software (perangkat lunak), tapi utamanya tentang brainware, yaitu kemampuan berfikir, menganalisa, serta bertindak atas data juga fakta yang ada untuk mengembangkan pelayanan, artinya tergantung manusianya. Sedangkan alat yang dipakai dapat menggunakan sistem yang ada maupun media sosial yang tersedia.

Brainware yang dibutuhkan agar kita mampu bertahan di era digital ada 4 hal disingkat CIEL, yaitu creativity, innovation, entrepreneurship, dan leadership (by markplus inc). Dalam konteks rumah sakit atau klinik bisa diimplementasikan dalam berbagai cara, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang tersedia, berikut contohnya,

Creativity, memonitor lama pelayanan di touchpoint (titik sentuh) pasien melalui sistem informasi yang ada, kemudian dianalisa dan diperbaiki dengan merubah alur pelayanan. Memanfaatkan google bisnis untuk menganalisa karakter pasar, juga memberi respon atas masukan dari pasien. Memaksimalkan sosial media yang ada untuk mengkomunikasikan produk pelayanan, pesan sosial, dan kegiatan sosial.

Innovation, mengembangkan aplikasi yang mempermudah pasien dalam mengakses pelayanan, seperti sistem antrian sehingga pasien tidak menunggu terlalu lama di rumah sakit. Sebenarnya sudah banyak yang mengembangkan layanan ini, tapi seringkali tidak berjalan baik sehingga pasien kecewa karena tidak sesuai harapan. Dapat dikembangkan pula menjadi wahana konsultasi dan terapi, sehingga pasien tidak perlu lagi datang ke rumah sakit. Saat ini konsep hospital without wall semakin menguat dibahas mengingat kondisi pandemi yang memaksa orang membatasi tatap muka.

Entrepreneurship, melalui data yang ada rumah sakit atau klinik dapat mengembangkan produk pelayanan baru atau diversifikasi. Misalnya menyediakan cathering dengan menu yang sesuai dengan kondisi pasien. Menyediakan kebutuhan pasien yang baru melahirkan baik untuk ibu maupun bayinya, dan diikuti terus hingga dewasa.

Leadership, pada akhirnya semua tergantung pemimpinnya. Melalui teknologi pemimpin harus mampu membuat perubahan, membangun impian, dan tetap menjadi penyemangat yang menebar kebahagiaan bagi manusia di sekelilingnya.

Yang terakhir, saya menutup tulisan ini dengan satu pertanyaan, apakah teknologi digital ini akan menggantikan sebagian besar peran tenaga pelayan di rumah sakit?. Jawaban saya, tergantikan atau tidak, sentuhan langsung pelayanan bagi pasien yang datang ke rumah sakit masih diperlukan. Ada kebutuhan kemanusiaan dan spiritual yang tak tergantikan oleh teknologi. Teknologi emang keren, tapi sentuhan kemanusiaan lebih hangat.

@dokter_absor

 

Last Updated on Wednesday, 16 February 2022 10:01