MENGAPA RESEP "MENYELAMATKAN RUMAH SAKIT" GAGAL DIPRAKTEKKAN? PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 18 September 2020 07:56

 

MENGAPA RESEP "MENYELAMATKAN RUMAH SAKIT" GAGAL DIPRAKTEKKAN?

Pandemi Covid ini memberikan pukulan bagi manajer rumah sakit (RS). Keadaan berubah menjadi serba sulit, pasien turun drastis karena tidak berani ke RS, di saat yang sama biaya meningkat drastis akibat kelangkaan barang, terutama bahan medis habis pakai. Menghadapi keadaan ini para direktur berupaya mencari jalan agar operasional tetap bisa berjalan. Bagaimanapun juga RS harus tetap melayani pasien yang datang, dan tetap menggaji karyawan. Maka, bagaimana strategi atau tips mengelola RS di masa krisis menjadi sesuatu yang paling dicari oleh para direktur.

Berbagai webinar banyak diselenggarakan, dengan thema yang tidak jauh dari "cara menyelamatkan diri dalam situasi sulit". Ada yang memberi judul, "strategy pengembangan RS di era pandemi", ada pula yang memberi judul keren seperti, "manajemen RS di era New Normal", ada juga yang judulnya memberi harapan, "peluang di balik krisis".

Dengan pembicara top dari RS besar dan sukses, webinar seperti ini laris manis diikuti banyak peserta. Beragam tips, trik, metoda atau langkah disampaikan oleh narasumber dengan menarik, layaknya sebuah resep masak dari koki handal yang menjanjikan kelezatan hidangan hasil olahan.


Resep "menyelamatkan RS" dari narasumber ini bermacam macam, tergantung pengalamannya. Meski demikian, secara umum saya golongkan resep menjadi dua yakni, pertama, mengurangi pengeluaran dengan berbagai cara seperti, mengurangi biaya pegawai, biaya maintenance, biaya logistik, biaya investasi, dll. Resep ke dua, mempertahankan atau meningkatkan pendapatan  melalui, menarik kembali pasien yang tidak berani datang ke RS, membuka layanan covid, serta inovasi produk layanan baru.

Alih alih sukses mempraktikkan resep yang didapat dari webinar, banyak direktur yang gagal, RS tetap sepi, pasien lama tak kunjung datang. Usaha mengefisienkan biayapun tidak semudah diomongkan narasumber. Saat dilakukan rasionalisasi karyawan, banyak yang resisten, atau setidaknya motivasi kerja menjadi turun.

Harga bahan habis pakai naik tak terhindarkan. Biaya operasional yang terlanjur besar sulit turun. Rupanya mempraktikkan lean management tak semudah membalik telapak tangan. Menjadi pertanyaan mengapa tips atau langkah dari narasumber gagal dipraktikkan, seperti kegagalan kita memasak  meskipun resepnya sudah dipraktekkan dengan benar?

Layaknya acara memasak di televisi, tidak pernah diperlihatkan bagaimana koki menyiapkan segala sesuatunya  sebelum acara dimulai. Dan inilah jawabannya mengapa hasil masakan tidak seenak yang diharapkan, yaitu adanya persiapan yang harus dilakukan agar proses memasak berjalan lancar serta menghasilkan masakan yang lezat.

Begitu juga yang terjadi di rumah sakit, bahwa ada persyaratan yang harus dimiliki agar dapat menghadapi masa krisis dengan baik. Narasumber sering tidak menceritakan sumberdaya apa yang dia miliki sebelum krisis, tidak mungkin rumah sakit tiba tiba mampu menghadapi krisis tanpa adanya kesiapan terlebih dahulu.

Kembali kepada analogi koki memasak, sebelum memasak ada yang harus disiapkan terlebih dahulu untuk menjamin prosesnya lancar dan hasilnya lezat bin maknyus. Pertama, bahannya harus lengkap dan bagus. Tidak mungkin membuat nasi goreng enak jika nasinya basi, meskipun mengolahnya sudah sesuai resep. Kedua, ada peralatan masak yang memadai. Proses memasak tidak berjalan lancar kalau di tengah jalan kehabisan gas elpiji. Ketiga, ini yang penting, koki yang handal. Jangan heran jika ada resto yang semula ramai pembeli menjadi sepi, karena kokinya ganti, meskipun bahan, alat, dan resepnya sama. Tiga hal inilah yang harus disiapkan agar sukses menyajikan hidangan yang lezat sesuai resep yang digunakan.

Begitu juga dengan rumah sakit, ada hal yang harus dimiliki agar siap menghadapi keadaan yang tidak menentu. Pertama, ketahanan finansial, setidaknya memiliki cadangan operasional selama tiga bulan. Cadangan uang ini diperlukan apabila pendapatan tiba tiba berkurang, pengeluaran membengkak, atau membiayai pengeluaran guna menyesuaikan dengan kondisi krisis. Ketika keadaan berubah seringkali kebutuhan pelayanan juga berubah, seperti menyediakan ruang isolasi khusus, rapid test, mesin pcr, ventilator, hepafilter, dan banyak lagi. Semua itu butuh dana segar.

 


Kedua, budaya kerja yang bagus. Memiliki karyawan yang pintar, loyal, dan tangguh adalah modal paling bernilai bagi RS dalam menghadapi krisis. Semua langkah yang direncanakan dapat direalisasikan jika karyawan punya kompetensi atau kemampuan dalam mengeksekusi. Sering terjadi, karyawan sudah lesu darah saat krisis melanda, kehilangan motivasi, mengeluh, bahkan sampai protes. Kalau sudah begini, alamat RS akan gulung tikar.

Ketiga, tidak bisa tidak RS akan tetap berjalan baik jika memiliki leader yang cakap dan cerdas. Kesiapan yang sudah dijelaskan di atas, tidak ada gunanya bila pemimpinnya tidak mampu mengarahkan dan memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki. Seorang direktur yang baik mampu memotivasi karyawan dan tenaga medisnya menghadapi masa masa sulit, memastikan semua prosedur tetap berjalan lancar, mencari jalan alternatif melalui kreatifitas dan inovasi pelayanan, serta terdepan dalam menghadapi masalah krusial. Ibarat kata, beda koki beda rasa, meski bahan yang dimasak sama.

Pesan dari tulisan ini adalah tidak ada cara instan, serta resep yang manjur dalam menghadapi masa masa sulit, kecuali RS memang sudah memiliki kesiapan sebelumnya yang didapat dari ketahanan financial, budaya kerja karyawan dan tenaga medis yang bagus, serta memiliki direktur yang cakap dan cerdas. Semoga bermanfaat.

 

 

Last Updated on Saturday, 19 September 2020 11:23