DERITA RUMAH SAKIT DI WABAH COVID-19 PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 18 May 2020 10:14

 

DERITA RUMAH SAKIT DI WABAH COVID-19

Sudah jatuh tertimpa tangga, inilah gambaran yang pas bagi dunia perumahsakitan di Indonesia saat ini. Sebelum merebak wabah covid-19, rumah sakit dihadapkan dengan kondisi yang serba sulit. Tantangan dari segala arah memaksa rumah sakit berada dalam posisi bertahan, tidak bertumbuh. Kini, ketika musibah wabah merebak, kembali rumah sakit dihadapkan dengan masalah dan kesulitan, seolah melengkapi penderitaan sebelumnya. Pasien turun drastis baik rawat inap maupun rawat jalan, tentu ini mengganggu cashflow. Kalaupun ada pasien datang, harus siap dengan resiko terpapar virus yang mematikan, jika dirujuk tidak ada rumah sakit yang mau terima rujukan karena ruangan penuh termasuk rumah sakit pemerintah, lengkap sudah derita. Inilah yang menyebabkan rumah sakit tidak optimal menghadapi pandemi.

Maka jangan heran bila rumah sakit kelabakan menghadapi pandemi. Ketidaksiapan ini bisa dilihat dari angka kematian, angka ini mencerminkan kualitas pelayanan medis. Angka kematian akibat covid-19 di Indonesia termasuk tinggi, dan bisa jadi angka kematian sesungguhnya lebih tinggi karena banyak yang menyangsikan akurasi data kematian. bahkan petinggi Australia sampai mengingatkan warganya agar jangan sampai sakit di negara kita, karena dikatakan bahwa fasilitas perawatan kesehatan di Indonesia buruk. Yah....memalukan, tapi itulah kenyataannya. Apa yang menyebabkan ini semua, dan bagaimana seharusnya agar rumah sakit berkembang dengan baik, serta sanggup menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, termasuk menghadapi wabah Covid-19?. Ada tiga hal mendasar sebagai penyebab rumah sakit menjadi terpuruk.

Pertama, “industri” rumah sakit disamakan dengan industri pada umumnya. Inilah kesalahan paling mendasar yang menyebabkan rumah sakit terdorong menjadi animal economic yang selalu bicara untung rugi, padahal fitrahnya rumah sakit adalah “mahluk sosial”, yang menolong orang yang sedang menderita. Maka jangan heran jika ketersediaan ruang isolasi yang memenuhi syarat sangat sedikit, karena investasi disini tidak menguntungkan. Dorongan itu bisa dilihat dari regulasi yang mengatur operasional rumah sakit. Ijin mendirikan maupun operasional rumah sakit tidak beda dengan industri lainnya. Jangankan keringanan dan kemudahan, kenyataannya malah lebih rumit. Sudah rumit, berubah ubah pula sehingga menyulitkan perencanaan pengembangan. Hampir semua dinas dan kementerian ikut terlibat dalam perijinan rumah sakit. Tidak salah apabila disebut sebagai industri yang paling ribet regulasinya. Dampak ini semua, banyak rumah sakit yang dijual sebelum pandemi, kalau sekarang pasti lebih banyak.

 

 

Kedua, rumah sakit profit disamakan perlakuannya dengan rumah sakit yang nirlaba atau tidak berorientasi mencari keuntungan. Membiarkan kedua jenis rumah sakit ini berkompetisi, bukan hanya tidak fair, tapi sangat membahayakan. Tidak fair karena kegiatan sosial kemasyarakatan adalah bagian tak terpisahkan dari operasional rumah sakit nirlaba, dan tentu hal ini menambah pengeluaran. Sementara rumah sakit profit tidak melakukannya. Dan ini sangat membahayakan, karena apabila rumah sakit nirlaba tidak eksis, lalu siapakah yang akan peduli dengan kegiatan kemasyarakatan dan bantuan kemanusiaan?. Banyak hal negeri ini membutuhkan uluran tangan dari peran swasta, karena tidak mungkin rumah sakit pemerintah sendiri yang akan menyelesaikannya. Ambil contoh; program penurunan kasus TBC, penurunan angka kematian bayi dan ibu melahirkan, perawatan gratis bagi pasien tidak mampu yang tidak memiliki akses BPJS, pengiriman tenaga medis ke daerah bencana, memberikan sumbangan kepada kegiatan sosial kemasyarakatan, ikut serta dalam kegiatan promosi kesehatan kepada masyarakat sekitar, menjadi wahana pendidikan bagi tenaga medis, dan masih banyak lagi peran rumah sakit nirlaba, termasuk memberi pelayanan saat terjadi wabah seperti covid-19 sekarang ini. Jadi perlindungan terhadap rumah sakit nirlaba adalah suatu keniscayaan, agar tercipta ketahanan pelayanan kesehatan.

Ketiga, lemahnya dukungan kepada industri penunjang kebutuhan rumah sakit. Hampir semua bahan baku kebutuhan rumah sakit diimpor. Obat sebagai komponen utama perawatan kesehatan sebagian besar diimpor dari China, sebagian kecil dari India. Tentu ini hal yang aneh, mengingat Indonesia punya BUMN yang bergerak di industri farmasi. Alat kesehatan yang dipakai rumah sakit hampir semua produk impor, mulai yang canggih seperti MRI, CT Scan, X ray, USG, pasien monitor, ventilator, hingga yang remehtemehpun diimpor, ada tensimeter, termometer, test gula darah, asam urat, kolesterol, termasuk masker medis yang sempat langka di awal pandemi, bahkan masker N95 hingga sekarang masih sulit dicari. Konsekuensinya, barang ini menjadi rentan dimainkan spekulan. Dan akhirnya rumah sakit yang menanggung bebannya. Bayangkan saja masker medis yang saat normal harganya 25ribu per box, kemarin bisa mencapai 275 ribu, 1000% lebih kenaikannya. Maka tidak heran pada awal pandemi banyak tenaga medis berguguran karena terbatasnya alat pelindung diri. Ini semua harusnya bisa diatasi karena sesungguhnya kita memiliki kemampuan membuat sendiri. Lihat saja, di tengah keterbatasan ternyata kita mampu membuat ventilator. Pula para ahli kita mampu membuat alat uji cepat (rapid test) antibodi yang sangat berguna untuk screening pasien covid-19. Maka yang diperlukan adalah keberpihakan pemerintah untuk mendukung industri dalam negeri khususnya bidang kesehatan.

 

Rapid Test made in Indonesia

Rapid Test made in Indonesia

Pandemi yang berlangsung lama, menimpa semua negara, dan memberikan dampak ke seluruh lini kehidupan, termasuk meluluhlantakkan perekonomian, harusnya menyadarkan pengampu negeri ini bahwa kesehatan bukanlah kebutuhan komplementer, atau hanya jadi pemanis bibir saat kampanye mengejar jabatan dan kedudukan. Justru kesehatan warga negara merupakan unsur penting kesejahteraan dan kehormatan suatu bangsa. Semoga kedepan, perhatian dan keberpihakan pemerintah khususnya di bidang perumahsakitan menjadi lebih intent lagi. Memang kesehatan bukanlah segalanya, namun tanpa kesehatan segalanya menjadi tidak ada artinya.

 

twitter

@dokter_absor

 

Last Updated on Monday, 18 May 2020 13:09