HAPPY WEDDING: KATA SAMBUTAN YANG BERAT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 07 October 2016 15:01

HAPPY WEDDING: KATA SAMBUTAN YANG BERAT

Lega.....itulah yang saya rasakan setelah menjalankan tugas berat yaitu memberikan sambutan. Walaupun pekerjaan ini sudah sering saya lakukan, sampai terkadang muncul rasa bosan, tapi sambutan yang ini sangat berbeda, nuansa dan ruhnya beda sekali, sehingga terasa ada beban ketika mendapat tugas. Kalau biasanya, sambutan membuka sebuah acara yang murni urusan organisasi seperti ini.... hormat sana hormat sini, mengucap rasa syukur, menceritakan keberhasilan, memberikan sedikit arahan (dengan gaya yang sok pintar....wkwkwkwk), atau kalau yang hadir atasan ya minta arahan (dengan gaya tunduk dan patuh....hahahaha), yang terakhir biasanya ditutup dengan minta maaf dan mohon ini itu, hampir semua sambutan gayanya seperti itu. Dan yang lebih membosankan adalah deretan pemberi sambutan, malahan kadang bisa sampai empat lima orang, jadinya seperti parade pidato, ya....saya yakin pembaca pasti bosan kalau hadir di acara seperti ini. Saya sendiri kurang suka dengan acara ceremonial, dan salah satu penyebabnya adalah kata sambutan.

Sambutan model apakah yang membuat tugas ini jadi berat..? Tanggal 23 september 2016 keponakan saya Nugroho Bagus Primantoko menikahi gadis yang bernama Novi Farahita. Pagi hari dilaksanakan acara ijab kabul dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Sorenya dilanjutkan dengan temu manten. Acara yang dihelat dengan nuansa adat jawa ini terdiri dari rangkaian prosesi dan penuh makna. Sebenarnya, saya sendiri kurang faham detil acara dan maknanya.....hahahaha, tapi kira kira begini makna acaranya, bahwa keluarga manten pria dengan ikhlas mengantarkan dan menyerahkan anak laki lakinya kepada keluarga manten putri, untuk mendapatkan bimbingan dan menjadi bagian dari keluarga manten putri. Nah... ini dia yang membuat saya sedikit stres.... saya ditugasi memberikan sambutan mewakili orang tua manten laki menyerahkan kepada wakil dari orang tua manten wanita. Ini tugas yang berat, bukan saja karena saya tidak terlalu paham dengan rangkaian prosesinya tapi beban morilnya itu lho. Pertama, saya merasa belum pantas jadi orang tua yang mewakili karena merasa masih muda (meskipun rambut sudah pada putih semua.....wkwkwkwk), lagian masih banyak saudara yang lebih tua umurnya. Kedua, karena ini adalah salah satu rangkaian prosesi, pastinya ada pakem pakem yang tidak boleh dilanggar atau hal hal yang harus disampaikan, sementara seperti yang disampaikan sebelumnya kalau saya tidak seberapa paham dengan adat istiadatnya. Ke tiga, menurut saya prosesi ini bukan sekadar uri uri (melestarikan) budaya saja tetapi ada pesan moral nan religius, jadi bukan sembarang sambutan, yang lebih tepat barangkali orang sekelas ustadz atau sesepuh yang sudah menjalani asam garam kehidupan.

Bersama kedua mempelai

Bersama Mempelai Berdua..

Karena tugas tidak boleh ditolak, akhirnya selama seminggu jadi kepikiran terus, takutnya mengecewakan yang memberi amanah. Finally, saat yang ditunggu tunggu telah tiba. Ternyata saya menjadi pemimpin rombongan manten pria (tambah grogi nih ceritanya....hehehe). Di ujung kampung rumah mempelai putri rombongan saya diatur berbaris rapi oleh penata acara yang sekaligus MC di acara itu. Dua keponakan kecil membawa kembar mayang (yang ini saya tidak ngerti apa itu kembar mayang dan filosofinya) posisi di depan, di belakangnya ada pengantin pria yang diapit pengiring, dibelakangnya lagi rombongan keluarga dan saudara lainnya. Saya berada di paling depan berjalan pelan menuju tempat acara diikuti rombongan (kayak komandan regu aja.....hahaha). sampai depan rumah pengantin putri rombongan berhenti, di hadapan saya sudah berdiri sosok yang mewakili keluarga pengantin putri, wajahnya tenang dan berwibawa. Diam sejenak, tiba tiba sang MC menyodorkan mik dan langsung meminta saya untuk memberikan sambutan. Terus terang saya kaget dan tidak siap, saya pikir rombongan diterima dulu di tempat acara, duduk kemudian saya maju untuk memberikan sambutan. Apa yang terjadi kemudian? Sambutan yang sudah saya hafalkan akhirnya sebagian lupa tidak tersampaikan (baru kali ini ngasih sambutan hafalan.....wkwkwk).....tapi anggap saja lancar, kan yang lain tidak tahu apa yang terlupa dari sambutan saya (yang ini edisi menghibur diri......hahahaha). Benar benar pengalaman berharga dan funny....dan yang penting lepas bebannya......wkwkwkwk.

Bersama Isteri dan Putriku

Bersama Isteri dan Puteriku

Syukurlah....acara sore itu berjalan dengan lancar. Usai memberi sambutan, dibalas dengan sambutan penerimaan dari keluarga manten putri, selanjutnya prosesi adat jawa beruntun dilaksanakan hingga tuntas. Mulai tukar kembar mayang, injak telor, membasuh kaki manten pria oleh manten putri, gendongan, pangkon, kacar kucur, dulangan, temu besan, sungkem. Maaf saya tidak bisa menjelaskan prosesi rincinya serta maknanya, nanti kepanjangan tulisannya dan juga kuatir salah (tanyakan pada ahli budaya saja ya.....hehehe).

Akhirnya.....yang paling penting dari acara pernikahan ini adalah, semoga pengantin berdua menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Menjadi keluarga yang bahagia, penuh cinta dan kasih, serta sejahtera. Dan semoga kedua mempelai senantiasa dilimpahi berkah yang luar biasa, serta keduanya disatukan dalam kebaikan. Baarokallahu laka wabaaroka alaih wajamaa bainakuma fii khoiir.

Twitter:

@dokter_absor

Last Updated on Friday, 07 October 2016 16:52