Teroris di ruang praktik PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 20 January 2011 10:35

Teroris di ruang praktik

Sebagai dokter yang memahami pentingnya kepuasan konsumen (pasien), saya menjaga betul agar semua pasien yang datang ke ruang praktik terlayani dengan baik. Supaya mereka mau berobat kembali ketika membutuhkan, tidak pindah ke dokter lain. Maka, seluruh pasien yang datang di praktikan saya sapa dengan ramah, senyum yang mengembang, dan menjadikan praktikan layaknya rumah mereka sendiri.

Malam itu seperti biasanya praktikan dipenuhi dengan pasien yang antri. Satu persatu pasien dipanggil masuk oleh asisten untuk saya periksa. Sampailah giliran pada satu keluarga, suami istri dan dua anak lakinya yang masih kecil. Yang tua berumur sekitar 5 tahun sedangkan yang kecil terpaut satu tahun lebih muda. Perawakan dua anak ini sangat berbeda, sang kakak badannya kurus, wajah tirus, dan kulit gelap. Sedangkan adiknya berperawakan gemuk, wajah oval, dan kulit kuning langsat. Jangan heran kenapa begitu beda potongannya karena salah satu dari mereka adalah anak angkat, kakaknya. Ya.sebagaimana kebiasaan orang, kalo lama tidak punya anak perlu mengangkat anak agar bisa mancing kehamilan. Dan rupanya ke dua pasangan ini sukses mancing. Yang sama dari kedua anak ini adalah sama sama hiperaktif dan luar biasa jail, kalo tidak disebut nakal.

Keluarga ini adalah pasien loyal. Seluruh keluarga suami maupun istri berobatnya ke praktikan saya. Jadi sudah sangat familiar dengan tempat praktik, seperti rumah mereka sendiri. Begitu juga dengan kedua anaknya. Malam itu, ketika mendapat giliran masuk langsung si kakak menerobos pintu dan tanpa ba bi bu naik ke bed periksa. Tidak tidur tapi berdiri melompat-lompat. hai hai.bukan kamu yang diperiksa, teriak ibunya, turun.ayo sini duduk yang manis. Si kakak cuman tertawa tawa sampai ibunya menuntun turun dari bed. Rupanya si adik tidak mau kalah dan ikut naik ke bed, dan lompat lompat juga. Kepala ini rasanya pecah kalo kedatangan kedua teroris ini. Ya saya sebut teroris sebab kedua anak ini selalu mengobrak abrik ruang praktik. Padahal, kalau sedang sakit, mereka lemas, cenderung rewel dan nangisan.

Kali ini yang periksa adalah bapak dan ibunya, kedua anaknya ikut mengantar. Nah pengantar inilah yang menjadi problem. Selama melayani konsultasi saya tidak bisa konsentrasi gara-gara dua teroris tidak berhenti berulah. Brak.pintu masuk tiba-tiba terbuka dengan cepat. Si kakak rupanya lagi dikejar sama adiknya. Keduanya berlarian keluar masuk praktikan. Masya Allah, ibu dan bapaknya kompak berujar. Menghadapi keadaan ini saya berusaha untuk tidak terpancing marah, walaupun jengkel. Dalam hati saya berkata mustinya ibunya mencubit anaknya biar mengerti bahwa hal itu tidak sopan. Sementara yang terjadi adalah bapak dan ibunya hanya kompak geleng kepala saja. Sebentar ditangkap, segera keduanya melepaskan diri dan membuat serangan lagi. Jrakjrakjrak.rupanya si kecil menaiki timbangan badan dan melompat lompat. Waaooooo.teriak saya dalam hati, bisa rusak timbangan itu. Namun yang keluar di wajah hanya senyum kecut, dan kata yang dilembut-lembutkan, jangan sayang.nanti rusak. Pigora ukuran tinggi badanpun tidak lepas dari serangan teroris. Diraihnya pigora yang tidak tinggi itu dan diontang antingkan hingga berayun-ayun. Waaahhh bisa pecah kalau jatuhsekali lagi hanya dibatin saja serta diiringi senyum kecut.

Tuntutan untuk memberi pelayanan yang baik kepada pasien terkadang mengorbankan perasaan. Walaupun sudah tahu bahwa sebagai dokter harus bersikap sabar, namun sebagai manusia muncul juga sifat alaminya, yaitu jengkel dan marah apabila ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan. Semoga pasienku memahami

Last Updated on Thursday, 20 January 2011 10:45