SILATURAHMI KOPI BANYUWANGI PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Wednesday, 01 July 2015 15:19

SILATURRAHMI SAMBIL MENIKMATI KOPI LUWAK BANYUWANGI

Beberapa waktu lalu saya pergi ke Banyuwangi. Agenda yang utama sebenarnya mengunjungi sejawat direktur RS Fatimah Banyuwangi yang sedang sakit, tapi untuk memanfaatkan waktu, sekalian melihat lihat perkembangan RS Muhammadiyah Rogojampi yang sedang giat giatnya membangun. Mengingat keterbatasan waktu maka saya rencanakan kunjungan ini dalam satu hari, berangkat pagi, pulang malam, berangkat naik pesawat pulang naik kereta api. Namun agak sial karena tiket pesawat dari surabaya full book, meski ada dua penerbangan. Untung saja masih ada tiket tapi harus transit di Denpasar dulu, ngak apalah daripada tidak jadi berangkat, mumpung ada waktu.

Akhirnya saya bersama dua teman (pak Edy dan Rudi) berangkat siang dan transit di bandara Ngurah Rai. Rupanya bandaranya sekarang sudah jauh lebih bagus dari yang dulu pernah singgah. Sekarang lebih luas dan nyaman, outlet penjual survenir dan cafe tertata bagus. Sebagai pencinta kopi saya manfaatkan berburu kopi Bali, dan akhirnya saya beli satu bungkus untuk diincipi nanti kalau sudah di rumah.

Kopi Bali Vs Kopi Bwi

Sampai di Banyuwangi sore, rupanya sudah ditunggu teman teman sejak siang di Bandara, ada dr. Syamsul, dr. Handri, pak Rofiq, dan dua orang lagi, terima kasih buat teman teman yang memberi tumpangan. Tidak nunggu lama langsung saja menuju Banyuwangi kota yang berjarak sekitar 10 kilometer. Karena perut lapar saya ditraktir makan rawon super lezat, menurutku rawon setan surabaya kalah mantab rasanya. Alhamdulillah sampai di rumah sejawat, saya mendapati beliau sudah sehat, meski masih terlihat agak pucat, namun bisa mendampingi ngobrol hingga magrib tiba. Semoga pulih seratus persen.

Tidak menyiakan waktu, lepas magrib saya pamit dan langsung ke Rogojampi melihat RS Muhammadiyah Rogojampi (@pkurogojampi) yang sedang berbenah. RS yang dikomandani dr. Handri (@drhandri) ini sedang membangun gedung rawat inap tiga lantai. Senang sekali melihat perkembangannya, meski belum finishing tapi lantai satu sudah penuh pasien rawat inap. Mantab dr. Handri, semoga lancar pembangunannya.

Pukul delapan lebih usai sudah agenda perjalanan. Masih ada waktu menunggu hingga jam sebelas, jadwal kereta api balik ke surabaya. Dengan sedikit perbincangan akhirnya sepakat mencari tempat ngopi, dan semua setuju dengan rekomendasi dr. Syamsul untuk ngopi di kopine cafe. Tidak salah rupanya dr. Syamsul merekom tempat ini, meski lokasinya di halaman rumah tapi soal kopi disini ahlinya. Beruntung saya bertemu dengan pemilik cafe ini, om Willy namanya. Pria keturunan ini dengan ramah dan antusias menjelaskan seluk beluk perkopian, mulai dari macam-macam jenis kopi, menggoreng biji hingga menghidangkannya. Baginya minum kopi tidak sekedar menikmati rasa pahitnya saja, tapi didalamnya ada rasa mocca maupun creamy jika bisa menikmatinya.

Suasana Cape

Saya sempat diajari membedakan rasa kopi, antara kopi luwak dan kopi lainnya. Dan ternyata beda, nikmatnya kopi luwak terasa pahitnya lebih tebal dan gurih, dicampur dengan sedikit manis sensasinya mantab. Sedangkan kopi yang lain rasanya lebih ringan meskipun sama sama pahit. Malam semakin larut, tak terasa jarum jam sudah mendekat ke angka sebelas. Saya pamit pulang untuk menuju stasiun kereta, sebungkus kopi saya bawa dibelikan teman teman untuk oleh oleh. Terima kasih teman teman Banyuwangi. Kunjungan silaturrahmi yang berkesan.

Twitter

@dokter_absor

Last Updated on Friday, 03 July 2015 15:52