BPJS BISA BANGKRUT PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Sunday, 26 April 2015 22:39

BPJS BISA BANGKRUT

Dari sekian banyak program pemerintah bidang kesehatan yang strategis, sejak dulu hingga sekarang menurut saya BPJS inilah yang paling sukses. Beberapa hal yang menguatkan penilaian ini adalah respon masyarakat. Tidak pernah ada sebelumnya program pemerintah yang direspon seantusias BPJS. Antrian pendaftar mengular, bahkan ada loket yang sejak lepas subuh sudah diantri pendaftar, saking lama dan banyaknya yang ngantri sampai sampai antriannya diganti botol, helm, atau barang lainnya milik pendaftar, luar biasa. Hebatnya, yang daftar tidak hanya golongan kelas bawah, tapi kelas menengahpun banyak yang daftar secara mandiri, artinya asuransi ini tidak dianggap sebagai programnya orang miskin seperti ASKESKIN atau JAMKESMAS dahulu. Selain itu, keberhasilan juga bisa dilihat dari awareness, hampir semua lapisan masyarakat mengenal BPJS dengan baik. Tak salah bila majalah Marketeers menempatkan BPJS dalam peringkat 4 dari 300 daftar WOW Brands, yaitu brand yang mendapat advokasi tinggi dari konsumen.

Namun, ke depan bisa jadi masyarakat tidak seantuasias saat ini sebab syarat kepesertaan tidak lagi semudah dulu. Awal diluncurkan, begitu peserta daftar hari itu juga langsung bisa digunakan di rumah sakit. Jadi hanya dengan uang 25.500 rupiah sudah bisa membiayai pasien yang rawat inap di rumah sakit, separah apapun penyakitnya. Famili saya pernah merasakan kemudahan ini, saat itu ibu sepupu saya sakit parah hingga dirawat di ICU. Karena tidak ada biaya maka saya sarankan ikut BPJS, jadi saat masuk rumah sakit masih belum jadi peserta tapi begitu masuk ICU mendaftar jadi peserta. Singkat cerita, hingga ibunya meninggal di ICU cuman bayar 600 ribu sebagai biaya rumah sakit sebelum terdaftar BPJS, hehehe....mantab benar layanannya. Tapi sekarang jangan harap bisa menikmati kemudahan itu lagi, daftar sekarang baru bisa digunakan seminggu kemudian. Kalau dulu boleh daftar satu orang, sekarang harus satu keluarga. Bayarnya harus lewat bank, jadi harus buka rekening di bank. Tentu semua pembatasan ini akan mengurangi kepuasan dan advokasi peserta, yang pada akhirnya mengurangi antusias masyarakat.

dikutip dari Majalah Marketeers

yang mendasari BPJS melakukan pembatasan ini? Jelas alasannya adalah beban biaya. Jika tidak dilakukan pasti BPJS akan bangkrut. Bayangkan saja bila semua orang yang sakit mencari gratisan dengan cara ikut BPJS, maka berapapun anggaran yang disediakan pasti habis. Dari sumber tidak resmi, tahun pertama beroperasi (2014) BPJS harus nambah anggaran 3 trilyun rupiah dari 41 trilyun yang semula dianggarkan.

Satu hal yang perlu diingat bahwa prinsip asuransi adalah risk sharing, artinya resiko sakit seseorang ditanggung bersama atau orang yang sakit ditanggung oleh orang yang sehat. Jadi kalau yang ikut BPJS orang sakit semua lalu siapa yang menanggung biayanya?, sementara pemerintah hanya menanggung biaya peserta yang tidak mampu atau penerima bantuan iuran (PBI). Maka jangan heran bila ke depan nanti pembatasan atau syarat menjadi peserta BPJS akan lebih diperketat lagi. Masa aktif akan diperpanjang tidak lagi satu minggu tapi nunggu satu bulan baru bisa digunakan, bahkan mungkin tiga bulan. Besar iuran kelas tiga tidak lagi 25.500 tapi sudah diusulkan naik 10 ribu rupiah atau lebih. Bahkan mungkin nanti untuk mendaftar perlu discrening dahulu harus periksa ini itu. Usia pendaftar juga akan menentukan besaran iuran, semakin tua semakin besar iurannya. Saat itulah ujian sesungguhnya bagi operator BPJS, apakah masih disambut dengan antusias atau tidak. Inilah masalah yang menantang operator BPJS, bangkrut atau menjadi tidak popular.

twitter@dokter_absor

Last Updated on Monday, 27 April 2015 09:42