KARTIKA WIJAYA HERITAGE HOTEL PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 21 September 2012 14:50

KARTIKA WIJAYA HERITAGE HOTEL

Laksana Orang Bijak yang Menghargai Warisan Leluhurnya

Liburan lebaran bagi saya dan keluarga merupakan saat yang dinantikan. Bukan hanya karena bisa berkumpul dan bersilaturrahmi dengan keluarga besar dari saya dan istri, tapi juga karena kami bisa menikmati kebersamaan yang tiap harinya jarang dirasakan. Rutinitas kesibukan menyebabkan hanya bisa efektif bercengkrama saat pagi sebelum anak berangkat dan tengah malam sepulang praktik.

Libur lebaran tahun ini saya manfaatkan dengan menginap di luar kota, sekedar melepas rutinitas dan mencari suasana segar, dan kota favorite tujuan bagi kami adalah Batu. Daerah yang dulunya bagian dari kota Malang ini memang menyajikan alam yang indah, udara yang masih segar, banyak tujuan wisata baik tempat maupun kuliner, hotel yang bagus serta nyaman, dengan jarak yang tidak jauh dari rumah.

Kali ini kami memilih menginap di hotel Kartika Wijaya. Hotel yang terletak tidak jauh dari alon alon Batu ini menarik karena menyuguhkan nuansa berbeda dari hotel lainnya. Dari depan tampak sebuah bangunan lama berarsitektur kolonial yang terawat baik. Bangunan inilah yang menjadi center point (bangunan induk yang menjadi ikon hotel) yang berfungsi untuk teras, recepsionis, dan ruang makan. Sedangkan kamar tamu hotel diletakkan pada sayap kiri dan kanan bangunan induk. Bagian belakang dibangun cottage yang menyatu dengan tumbuhan yang teduh dan rindang. Dengan halaman tengah yang luas, dilengkapi kolam renang dan lapangan sepak bola mini serta play ground menjadikan tempat ini nyaman buat santai melepas kepenatan. Apalagi ditambah dengan background gunung (entah gunung apahehehe) mata rasanya dingin, lengkap sudah.

Kartika Wijaya Hotel Sekarang

Bagi kami kelebihan hotel ini bukanlah terletak pada fasilitas kamarnya, semuanya standard seperti kamar hotel lain. Tetapi kepedulian terhadap nilai sejarah inilah yang menjadikan kekuatan dan daya tarik. Hotel ini menjadi seperti sosok orang yang santun, hormat terhadap orang lain, menghargai peninggalan dan perjuangan bangsa. Kalau mereka menghargai karya orang yang sudah meninggal, tentu mereka menghargai kami yang datang sebagai tamu hotel dan membayar, begitu yang ada dalam pikiran saya. Dan memang pelayanan mereka ramah dan cekatan meski semua kamar penuh saat itu.

Saya semakin terkesan ketika banyak foto jadul dipampang di dinding yang menceritakan riwayat hotel yang sarat dengan sejarah perjalanan bangsa. Hotel ini didirikan oleh orang Iran yang bernama Lukas Martin Sarkies (juga pendiri hotel Niagara di Lawang dan hotel Mojopahit di Surabaya) sebelum kemerdekaan. Kemudian dalam perkembangan sejarah bangsa, hotel ini berpindah kepemilikan dan fungsi. Pernah menjadi markas tentara jepang, gudang senjata, rumah sakit , dan pernah juga dijadikan markas tentara Indonesia. Semua terekam jelas dalam deretan koleksi foto lawas yang dipajang.

Kartika Wijaya Hotel Tempoe Doeloe

Hotel ini memberi pelajaran yang berharga bagi saya. Meski produk utama dari hotel adalah kamar dan pelayanan menginap, tapi ketertarikan atau pilihan tamu menginap bisa disebabkan karena alasan lain, menghargai nilai-nilai luhur diantaranya. Akhirnya saya berfikir, tentu hal ini bisa diterapkan dalam praktik manajemen rumah sakit. Meskipun produk utama rumah sakit adalah menyembuhkan orang sakit, mungkin ada alasan mulia lainnya yang non medis sehingga pasien dan keluarganya memilih rumah sakit kita, tapi seperti apa contohnya?

Last Updated on Friday, 21 September 2012 14:59