Kenangan Negeri 5 Menara PDF Print E-mail
My University Of Life - My University Of Life
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Friday, 20 April 2012 13:13

KENANGAN NEGERI 5 MENARA

Film "Negeri 5 Menara" yang saya tonton begitu kuat membangkitkan kenangan masa awal menjadi dokter. Sebuah pengalaman yang mengajarkan makna kehidupan, dan masa yang penuh idealisme sebagai dokter. Usai menonton film ini, saya jadi merenung kembali, masihkah saya se idealis dulu, ataukah sudah tercemar virus materialisme, yang menjadikan kekayaan materi sebagai ukuran kesuksesan seorang dokter?.

Sebenarnya, ketika berangkat nonton niatnya hanyalah memenuhi keinginan anak saya yang sudah baca novelnya, bagus ceritanya kata anak saya. Dan ketika film diputar, saya sangat antusias, bukan karena ceritanya, tetapi karena film ini dibuat dengan latar belakang sebuah pondok pesantren yang saya kenal betul, Pondok Modern Gontor Ponorogo, hampir 80% durasi film disetting di pesantren ini.

Tujuh belas tahun lalu beberapa hari setelah dilantik sebagai dokter, saya langsung ditugaskan di Gontor, sebuah pesantren yang jauh di pelosok desa namun sangat kondang keberadaannya di nusantara, karena menelorkan banyak tokoh nasional. Diantaranya, Dien Syamsudin, Hasyim Muzadi dan masih banyak lagi. Dan juga, walaupun bukan tokoh nasional, yang membangun blog ini - sdr Ubaid - adalah lulusan Pondok Modern ini.

Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) disini pengabdian saya sebagai dokter dimulai

Saya bertugas di klinik pesantren ini, Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat (BKSM) namanya. Selain memberi pengobatan santri yang sedang sakit, juga bertanggung jawab terhadap kesehatan hampir 4.000 santri. Tentu pekerjaan yang berat, sehingga bagi kebanyakan dokter baru hal ini tidak menarik. Sebagian besar menginginkan menjadi dokter di rumah sakit, karena selain menawarkan pengalaman medis yang luas juga mendapat imbalan yang layak. Meski begitu, bagi saya tempat ini menarik karena terkenal dengan budaya disiplinnya yang keras sehingga bisa mencetak pemimpin kelas nasional, saya ingin merasakan sensasi penggemblengan santri mereka.

Tiap hari, pagi dan malam, saya menangani pasien yang berobat di klinik, sesekali merawat pasien yang harus rawat inap. Karena fasilitas yang terbatas, bila ada pasien yang parah terpaksa dirujuk ke Madiun. Jauh dari pusat informasi saat itu (belum ada handphone/internet) membuat semua masalah harus dipikir dan dipecahkan sendiri. Hanya buku kuliah dan teksbook yang saya bawa yang jadi tempat rujukan masalah. Padatnya pondokan oleh santri meningkatkan resiko penularan penyakit. Maka, untuk mencegah penyakit menjadi wabah saya harus sering keliling pondokan dengan mengayuh sepeda pancal. Keluar masuk kamar santri, memastikan tidak ada santri yang sakit menular sehingga membahayakan diri dan lingkungannya.

24 jam berada di lingkungan pesantren membuat saya banyak berinteraksi dengan santri, ustadz, kyai, dengan segala aktivitasnya. Dari merekalah saya belajar memaknai kehidupan yang sesungguhnya. Saya amati betapa kerasnya para ustadz mendidik kedisiplinan kepada santrinya, demi sebuah cita cita. Seperti "mantra" yang sering diucapkan dalam film ini "Man Jadda wa Jada", barangsiapa bersungguh sungguh akan berhasil. Totalitas ustadz dalam membimbing santri mengajarkan bagaimana pengabdian yang sesungguhnya. Menghabiskan seluruh hidupnya di pesantren untuk mengemban amanah mencerdaskan santri dengan tanpa bayaran sepeserpun. Apalagi para kyai pemangku pesantren, mereka dengan ikhlas mewakafkan dirinya sebagai sumber ilmu, penjaga moral bangsa, pemberi motivasi, juga menjadi rujukan dalam setiap masalah yang timbul. Semua itu dijalaninya dengan tanpa mengharap imbalan dari siapapun.

dengan sepeda ini saya dulu keliling pondok mengantisipasi penyakit menular

Bagaimana dengan profesi dokter seperti yang saya jalani, masihkah bisa disebut sebuah pengabdian, sementara saya mendapat bayaran atas apa yang saya kerjakan terhadap pasien?. WJS. Poerwodarminto mengatakan bahwa pengabdian adalah suatu penyerahan diri kepada "sesuatu" yang dianggap lebih, biasanya dilakukan dengan ikhlas, bahkan diikuti pengorbanan. Dimana pengorbanan berarti suatu pemberian untuk menyatakan kebaktian, yang dapat berupa materi, perasaan, jiwa raga.

Nah, bila merujuk pada definisi di atas jelas bahwa apa yang dilakukan santri, ustadz, dan kyai adalah suatu pengabdian kepada "sesuatu" yang mulia. Lalu bagaimana dengan dokter? saya tidak berani menjawab. Yang jelas saat ini saya menghidupi keluarga dari orang yang saya "tolong", tidak tahu lagi pendapat pembaca blog ini.

Last Updated on Friday, 20 April 2012 14:14