PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Thursday, 24 February 2011 15:24

RESENSI BUKU

MEMAHAMI FENOMENA MASUK ANGIN

Judul Buku : Menaklukkan Pembunuh No. 1

Mencegah dan Mengatasi Penyakit Jantung Koroner secara Tepat dan

Cepat

Penulis : Dr. A. Fauzi Yahya, Sp.J.P.(K), FIHA

Penerbit : Qonita, Bandung

Cetakan : 1, Juli 2010

Jumlah halaman : 218 halaman + glosarium dan lampiran

Seorang wanita berdaster berjalan cepat mengikuti rombongan dari belakang dengan wajah cemas. Pria yang terbujur kaku itu lalu dibaringkan di tempat pemeriksaan. Wanita berdaster menarik-narik baju saya sambil berlinang air mata dan berkata, Selamatkan suami saya, Dok!. Secara naluriah, saya langsung meraba nadi di leher dan pergelangan tangannya. Tak ada entakan apapun.

Yang dimaksud saya- dalam cerita tersebut adalah penulis buku sendiri, dr. A. Fauzi Yahya, SpJP(K), FIHA. Pada akhirnya, pria yang terbujur kaku itu tak tertolong. Cerita ini bukanlah fiksi namun pengalaman penulis semasa kuliah di fakultas kedokteran sebagai dokter muda. Penggalan kisah hidup ini oleh penulis dijadikan pembuka dalam buku karangannya. Selanjutnya, kisah demi kisah mengalir lancar mengawali pembahasan setiap bab dalam buku yang berjudul menaklukkan pembunuh no.1 ini. Buku ini menyuguhkan bahasan penyakit yang banyak mematikan orang, yaitu penyakit jantung koroner (PJK), dengan gaya bertutur namun sarat dengan unsur edukasi. Latar belakang penulis sebagai dokter ahli dan jurnalis menghasilkan karya unik yang mengkombinasikan kompleksitas dunia medis dengan kebutuhan agar buku yang diterbitkan enak dibaca.

Serangan PJK tidak memilih latar belakang kehidupan seseorang. Hampir semua lapisan masyarakat punya risiko terkena penyakit yang mematikan ini. Teringat bagaimana tokoh fenomenal yang tiba-tiba namanya melejit dan kemudian mendadak meninggal, yaitu mbah Surip. Juga sederet nama tenar lainnya seperti budayawan WS. Rendra,dan Hamid Jabar (penyair yang meninggal di panggung saat membaca puisi). Juga ada pejabat yang meninggal saat dirinya melakukan serah terima jabatan. Hingga di ujung kampung sering kita jumpai seseorang yang meregang nyawa sesaat setelah merasa masuk angin. Semua kasus itu penyebab utamanya diyakini karena PJK.

Penulis Blog dan Penulis Buku

Penulis Blog (dr.Sholihul Absor, MARS) dan Penulis Buku Pembunuh No.1 (Dr. A.Fauzi Yahya, Sp.J.P.(K),FIHA

Fenomena pembunuh no.1 ini dijelaskan oleh penulis dengan sistimatika layaknya alur berpikir seorang dokter dalam mendiagnosa dan mengobati pasiennya. Pembaca diajak untuk mengenali organ jantung terlebih dahulu. Jantung digambarkan sebagai organ vital seukuran sekepalan tangan dengan berat 300 gram yang berada di rongga tengah dada diapit paru-paru dan terlindung tulang dada yang kokoh. Jantung menjalankan fungsinya sebagai pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Setiap hari, jantung berdenyut rata-rata 100 ribu kali untuk memompa 9.500 liter darah. Jadi, bila umur anda sampai 70 tahun berarti jantung telah berdenyut 2,5 milyar kali!.

Kehebatan pompa yang berdenyut tanpa henti ini, berkat adanya suplai bahan energy yang berupa oksigen dan nutrisi melalui pembuluh darah jantung, disebut sebagai pembuluh koroner. Apabila terjadi penyempitan atau penyumbatan mengakibatkan sel-sel jantung melemah bahkan bisa mati. Gangguan inilah yang disebut sebagai penyakit jantung koroner (PJK). Selain itu, jantung juga punya sistem listrik mandiri yang secara otomatis menggerakkan denyut jantung. PJK dapat mengganggu sistem ini, mengakibatkan terjadinya korsleting listrik di jantung dan membuat penderita mati mendadak.

Jadi, sumbatan pada pembuluh koroner inilah pangkal segala masalah yang terjadi. Oleh karena itu mengetahui penyebab kebuntuan pembuluh menjadi sangat penting. Pada umumnya proses penyumbatan diawali karena tumpukan bubur campur padat yang menyusup dalam dinding pembuluh koroner. Para ahli menyebut bubur itu sebagai plak aterosklerosis. Semakin lama tumpukan semakin tebal dan menyempitkan liang koroner. Proses ini banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantaranya; keturunan, usia, jenis kelamin, hiperkolesterol, kencing manis, darah tinggi, dan yang tak kalah pentingnya adalah gaya hidup.

Pasien yang terkena serangan jantung, dimana pembuluh koroner tiba-tiba menyempit parah atau tersumbat total, merasakan tidak enak seperti ditindih beban berat di dada bagian tengah. Ini adalah keluhan klasik atau sebagian besar pasien. Rasa sakit ini dapat menjalar ke lengan kiri atau kanan, bahkan ke rahang dan punggung. Terkadang, leher juga terasa dicekik.

Bila penderita pada saat yang tepat dibawa ke rumah sakit, dokter segera memberikan pertolongan baik berupa obat-obatan maupun intervensi langsung ke pembuluh koroner. Intervensi dilakukan dengan cara memasukkan selang kecil yang dipasangi balon dan cincin (stent) diujungnya ke dalam liang koroner. Dengan meniupkan balon di tempat penyempitan, maka timbunan aterosklerosis terdesak dan cincin ikut mengembang menahan agar liang tidak menyempit kembali. Selanjutnya, balon ditarik keluar meninggalkan cincin dalam liang yang sudah melebar. Proses yang rumit ini dijelaskan dengan karikatur yang gamblang oleh penulis, sehingga pembaca tidak lelah membayangkan proses yang terjadi.

Di tengah terbatasnya informasi yang mengulas PJK secara detail, buku ini dapat dijadikan alternative untuk memahami penyakit jantung dengan segala permasalahannya. Tantangan terbesar dari buku ini adalah bagaimana mengadaptasi istilah-istilah medis menjadi istilah yang dapat dipahami semua orang. Terkadang istilah yang sudah familiar bagi kalangan medis, ketika diterjemahkan ke bahasa indonesia menjadi sesuatu yang asing. Sebaliknya, bila tidak diterjemahkan, istilah medis yang digunakan menjadi hafalan yang membingungkan. Walaupun begitu pembaca tidak perlu khawatir sulit mencerna isi buku ini karena buku ini dilengkapi dengan ilustrasi, baik berupa foto, gambar sketsa, maupun karikatur jenaka. Boleh dikata buku ini adalah buku ilmiah yang diawamkan.

Last Updated on Wednesday, 25 May 2011 13:25