KLINIK, BP, RB LAMONGAN MEMBUTUHKAN PEMASARAN PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 21 February 2011 07:38

Awal pebruari saya diundang oleh forum komunikasi klinik, balai pengobatan (BP), rumah bersalin (RB) se kabupaten Lamongan. Senang sekali ketika saya ditelpon oleh dr. Rosidi, sang ketua forum, untuk diminta memberikan materi tentang pemasaran. Bukan saja karena saya bisa berbagi pengetahuan dengan mereka, tetapi acara ini bisa menjadi ajang reuni bersama sejawat dokter semasa bertugas sebagai dokter PTT disana.

Tidak kurang dari 50 klinik, bp, rb yang ada di Lamongan. Rupanya kondisi pelayanan kesehatan sudah sangat berubah, tambah banyak. Tidak hanya itu, perawat dan bidan yang buka praktik di pelosok desa juga tambah banyak. Bahkan seorang teman dokter bercerita bahwa di tempat dia bertugas, satu desa bisa ada 3 tenaga kesehatan yang buka praktik. Buntut dari masalah ini adalah terjadinya persaingan yang tidak sehat. Tidak sedikit yang mempraktikkan cara-cara yang melanggar kode etik profesi. Seperti memberikan fee bagi perujuk, yang tak ubahnya seperti makelar. Atau praktik yang lebih halus lagi yaitu perang harga.

Dalam kesempatan ini saya berbagi pengetahuan tentang perlunya memahami pemasaran dengan benar. Pemasaran tidak hanya berupa memasang neon box nama institusi, menulis semua jenis pelayanan yang ada di kaca, termasuk praktik pemberian fee kepada perujuk. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana membuat pertukaran value (nilai) antara penyedia pelayanan kesehatan dengan penggunan dalam hal ini pasien dan keluarganya. Klinik, BP, RB memberikan manfaat medis dan manfaat emosional, sedangkan pasien memberikan bayaran atas pelayanan yang diterima ditambah dengan biaya lain-lain yang dikeluarkannya.

Semakin besar manfaat yang diberikan oleh penyedia layanan dibanding pengorbanan yang dikeluarkan oleh pasien, berarti semakin besar kemungkinan penyedia layanan itu dipilih. Dengan rumus yang sederhana ini diharapkan Klinik, BP, RB tidak lagi berlomba memperbesar fee kepada perujuk, atau hanya terpaku pada pola promosi yang selama ini dilakukan. Akan tetapi dengan kreativitas menciptakan manfaat, utamanya emosional serta memperkecil biaya pasien, utamanya biaya lain-lain, maka daya saing Klinik, BP, RB di Lamongan akan makin meningkat. Acara yang dihadiri sekitar 100 orang ini diselenggarakan dengan kerjasama dengan IDI (ikatan dokter Indonesia) cabang Lamongan. Senang bisa berbagi, semoga bermanfaat.