Menikmati kopi sambil belajar pemasaran PDF Print E-mail
Written by dr.Sholihul Absor,MARS   
Monday, 30 May 2011 12:04

Sensasi Kopi Luwak di Cafe Rollas

"Menikmati kopi sambil belajar pemasaran"

Bagi penggemar kopi tentu sudah tidak asing lagi mendengar jenis kopi yang satu ini. Nama ini diambil dari proses pemilihan biji kopi yang diambil dari kotoran binatang sejenis musang. Dimana biji kopi yang matang dimakan oleh luwak kemudian hasil pencernaan luwak ini dikeluarkan dalam bentuk kotoran yang bercampur dengan biji kopi pilihan. Proses fermentasi di dalam perut luwak inilah yang diyakini membuat rasa kopi menjadi khas dan mantab.

Proses yang unik dan natural ini membuat kopi luwak harganya sangat mahal. Perkilogram harganya mencapai dua setengah juta, waow...bandingkan dengan harga kopi di warung kopi, atau cafe resto bahkan, jauh sekali khan?.

Jenis Sajian Kopi Luwak Kopi Luwak dengan Makanan Tambahan Kopi Luwak dengan cake coklat

Dalam suatu kesempatan saya pernah bertemu dengan dua orang staf marketing PT. Perkebunan XII yang memproduksi kopi luwak. Mereka menceritakan dan mempromosikan agar saya mencoba rasa kopi luwak yang asli. Dari pertemuan itulah saya tertarik untuk mencoba, ingin merasakan sensasi kopi termahal di dunia.

Setelah sekian lama tidak sempat, akhirnya kesampaian juga merasakan sensasi kopi luwak. Bertempat di Cafe Rollas, Tunjungan Plasa Surabaya. Saya memilih tempat ini karena direkomendasikan dua orang staf marketing yang saya ceritakan di awal. Cafe ini memang unit bisnisnya PT. Perkebunan XII, oleh karena itu namanya Cafe Rollas yang berarti dua belas.

Setelah mengambil tempat duduk saya disodori daftar menu. Langsung saja saya pilih kopi luwak. Ternyata ada dua macam kopi luwak yang tersedia, yaitu kopi arabica dan robusta. Melihat keragu-raguan saya memilih kopi, pelayan bertanya, "bapak pertama kali minum kopi luwak?", saya jawab ya... Mbak Risma, si pelayan tadi, menjelaskan bahwa kopi luwak arabica rasanya lebih soft, lembut dengan aroma yang sedikit asam. Sedangkan robusta lebih kuat atau pahit. Dengan rekomendasi mbak Risma saya akhirnya memilih arabica, katanya lebih cocok buat pemula.

Tak lama berselang muncullah pesanan saya. Saya kira secangkir kopi langsung dihidangkan, ternyata tidak, Risma membawa tungku kecil yang ditaruh di meja, serta dua bola kaca sebesar kepalan tangan yang bersusun. Bagian bawah berisi air sedangkan bagian atas berisi serbuk kopi yang saya pesan. Kedua bagian ini dihubungkan dengan pipa kaca. Alat perebus kopi ini biasa disebut siphon. Terus terang ini pengalaman pertama saya melihat perebusan kopi dengan cara seperti ini, biasanya dengan cafe maker listrik. Kelihatan bahwa proses penyajian ini memang sengaja didemonstrasikan di hadapan saya untuk memberikan nilai eksklusive kopi luwak.

Sebelum mulai merebus, Risma mempersilahkan mencium aroma kopi luwak. Walaupun dijelaskan bahwa aromanya lebih enak dan sedikit wangi, tapi jujur saja saya masih belum bisa bedakan dengan kopi lainnya. Mungkin karena saya bukan penikmat kopi sejati, jadi semua kopi aromanya sama.


Sambil merebus, Risma berusaha memberikan "pencerahan" tentang serba serbi kopi. Saya lihat dia antusias menjelaskan dan bangga dengan kopi yang dia hidangkan. Air yang direbus diambilkan dari air sulingan di perkebunan, jadi bukan sembarang air. “Oleh karena itu kalau membuat kopi sendiri di rumah akan terasa lain rasanya, walaupun bubuk kopinya sama”, katanya. Untuk menghasilkan rebusan yang pas, panas airnya 93 derajat celcius, kalau sampai terlalu panas rasanya jadi tidak enak. Saya lihat air yang di bola kaca sudah mendidih dan naik ke bola kaca di atasnya yang ada bubuk kopinya. Risma melepas bola kaca yang di atas kemudian menggoyangkannya untuk meratakan campuran bubuk kopi dengan air panas. Setelah tercampur rata disambungkan kembali dengan bola kaca dibawah yang sudah kosong. Lantas siphon diangkat terus bola kaca bagian bawah dikompres dengan air es yang sudah disiapkan sebelumnya. Dan seduhan kopi tersedot habis ke bawah menyisakan ampas kopi di atas. Tadinya saya khawatir bola kacanya pecah karena setelah terkena panas langsung didinginkan, ternyata tidak (pikiran bodoh...hehehe). Perbedaan suhu di atas dan bawah ini yang menyebabkan perbedaan tekanan sehingga seduhan kopi bisa disedot melewati saringan di antara dua bola kaca. Hasil akhirnya Risma menuangkan seduhan kopi ke dalam cangkir di meja.

Sebelum mempersilahkan saya menikmati kopi, Risma mempersilahkan mencium aromanya lebih dahulu, dan mencicipi rasa kopi luwak yang belum diberi gula, katanya itu cara merasakan kopi yang benar. Sejak awal hingga akhir penjelasan saat demo saya sangat antusias. Bagi saya justru cerita di balik secangkir kopi luwak itu yang lebih menarik, dari pada rasa kopinya. Memang rasa kopinya sesuai cerita Risma, bila disruput rasanya halus, tidak terasa pahit, dan sedikit asam. Lebih tepat saya gambarkan kopi yang lembut dan sedikit ringan. Tapi saya masih kurang puas. Bayangan saya kopinya rasanya agak pahit, tapi ada manisnya, dan mantab. Mungkin karena saya salah pilih, harusnya kopi robusta yang lebih kuat rasanya.

Tapi ada sisi lain yang membuat saya tidak kecewa menikmati kopi luwak saat itu, yaitu pengalaman dan pengetahuan yang berharga tentang kopi, dan ini akan sulit hilang dari ingatan saya. Istilahnya "memorable experience". Sebelumnya saya tidak tau bahwa kopi yang saya minum itu tumbuh di ketinggian 1.500 meter diatas permukaan laut, sedangkan robusta 700 meter, dan hanya panen pada bulan juli, agustus, dan september.

Membuat layanan yang berkesan pada dasarnya harus memuaskan kebutuhan lima panca indra. Mata harus terpapar dengan tampilan yang menarik. Hidung dirangsang dengan bau yang segar dan khas. Mulut merasakan sajian yang pas dan nikmat. Telinga mendengar suara yang sesuai dengan suasana. Dan, badan disertai alat gerak dapat merasakan sentuhan produk yang disuguhkan.

Bayangkan bila seluruh panca indra dirangsang pada saat yg bersamaan, tentu akan menimbulkan sinergi yang kuat dalam membenamkan pengalaman yang dialaminya di benak konsumen. Dan tidak akan pernah dilupakan.

Di rumah sakitpun seharusnya kita bisa menyajikan pengalaman yang berkesan bagi pasien dan keluarganya dengan memenuhi kebutuhan panca indra. Pasien tidak hanya mendapatkan pelayanan medis yang baik, tapi juga perawat yang cantik, dokter yang rapi, suasana rawat inap yang bersih dan tenang, jauh dari bau obat dan formalin. Makanan yang berselera, tidak tawar walaupun menderita kencing manis atau darah tinggi. Pasien mendapat penjelasan asal usul penyakit, obat yang digunakan, perkiraan kesembuhan, dll. Tak lupa juga tiap hari dokter berjabat tangan dan menyapa pasien dengan senyum yang mengembang. Bayangkan semua itu terjadi di rumah sakit kita, tentu luar biasa respon pasien dan keluarganya. Lalu, bisakah kita mempraktikan semuanya dengan antusias seperti Risma melayani saya di Cafe Rollas?